Catatan Mengenai BJ Habibie Soal Masa Tua dan Akhirat Yang Harus Direnungkan Anak Muda






Pak Habibie Muda
idntimes.com

Beritaislam - Sebuah catatan yang viral di media sosial tentang Bapak BJ. Habibie membuat bulu kuduk berdiri alias merinding, namun bukan bermaksud merendahkan atau mengecilkan hati. Catatan ini beritaislam.org publish agar menjadi pelajaran bagi kita semua.


Betepa kehidupandunia itu pasti ada ujungnya, yaitu kematian. Di sini kita belajar bahwa setiap makhluk Allah yang bernyawa pasti akan mati.

Tulisan ini viral di medsos, entah siapa yang menulis, ada yang bilang itu catatan Pak. Habibie, namun ada yang bilang itu bukan catatan beliau.

Kami tidak akan berdebat mengenai siapa yang mencatat tulisan ini, kami hanya ingin membuat tulisan ini sebagai pelajaran saja untuk kita semua. Agar mengingatkan kita semua, kelak setelah usia menjadi tua.

Catatan ini menjadi renungan bagi siapa saja yang masih muda (anak muda) menganai keadaannya di masa tua.

Meski sebenarnya kematian tak kenal waktu.

Berikut adalah catatan selengkapnya:

Sepi penghuni...

Istri sudah meninggal...

Tangan menggigil karena lemah...

Penyakit menggerogoti sejak lama...

Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...

Ada yang sekarang berkarir di luar negeri...

Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi...

Dan ada pula yang jadi pengusaha ...

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...

Namun....

Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" di sudut hatinya..

Tidur tak nyaman...

Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....

Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...

Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

Sudah terlanjur melemah..."

Pada catatan selanjutnya, bercerita bahwa yang pasti adalah kematian. Berikut sambungannya:

"Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...

sepanjang waktu ....

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_

Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...

yang pasti hanyalah KEMATIAN.

Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya..._

Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...

Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang..._

Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?

Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...

Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???

Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???

Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama??? Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja..

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang......

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.....

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...


Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...

"KALAULAH SEMPAT"


Mengapa kalau sempat ?

Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius?

Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?

Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang bisa melalaikan.....


Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.”

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Mengenai BJ Habibie Soal Masa Tua dan Akhirat Yang Harus Direnungkan Anak Muda"

Post a Comment