Pengamat: Kyai Ma’ruf Lebih Baik Jadi Ulama Bukan Cawapres Jokowi

Pengamat: Kyai Ma’ruf Lebih Baik Jadi Ulama Bukan Cawapres Jokowi

Beritaislam.org - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin disebut bukan figur yang tepat untuk menjadi calon wakil presiden pendamping Joko Widodo pada Pemilu 2019.

Kyai Ma’ruf dinilai lebih dibutuhkan menjadi ulama panutan yang menjaga kerukunan NKRI dan keberagamannya.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menyampaikan, Presiden Joko Widodo berhak memilih figur yang akan mendampinginya pada pilpres tahun depan, demikian juga Kyai Ma’ruf memiliki hak politik. Namun, Indonesia memerlukan pemimpin yang lebih muda, berintegritas dan berpengalaman.

“Yang berintegritas dan yang terbaik. Kan masih banyak figur lain yang bisa dan mumpuni. Kyai Ma’ruf Amin itu levelnya menjadi ulama panutan yang menjaga kerukunan umat,” katanya di Jakarta, Jumat (27/7).

Kyai Ma’ruf yang saat ini berusia 75 tahun juga dinilai tidak menjamin memberi peningkatan elektoral untuk Jokowi. Pasalnya Ketum MUI ini tidak berpengalaman di dunia politik dan pemerintahan serta namanya tidak masuk dalam hasil survei cawapres sejumlah lembaga.

Ujang menyampaikan, sejarah mencatat bahwa mengusung ulama sebagai cawapres tidak jaminan mendongkrak elektabilitas, apalagi menang. Hal itu terjadi pada Pemilu 2004 saat pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Salahudin Wahid kalah oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

“Jadi bisa saja cerita masa lalu ini kembali, tergantung tingkat kesukaan masyarakat,” ungkap direktur eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Memilih Kyai Ma’ruf menjadi cawapres juga dikhawatirkan membuka potensi terjadinya konflik. Alasannya, cawapres pasti akan mendapat serangan politik dari kubu lawan, dan serangan politik terhadap personal Kyai Ma’ruf bisa melebar jadi serangan terhadap ulama secara menyeluruh.

“Ketika dikritik orang maka pendukungnya protes,” demikian Ujang. (rmol)

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini