Fakta Kejamnya Perbudakan Modern di Australia

Fakta Kejamnya Perbudakan Modern di Australia
Anak-anak dari Paulo Kivalu, seorang pekerja asal Tonga yang meninggal dunia di Australia.

Beritaislamterbaru.org - Tiga pekerja asal Tonga meninggal dunia dan pekerja lainnya dipaksa hidup dan bekerja keras dalam kondisi menyedihkan melalui program yang didukung Pemerintah Australia.

Hal ini terungkap dalam penyelidikan parlemen atas beberapa perusahaan penyedia tenaga kerja. Beberapa di antara perusahaan itu mengeruk keuntungan hampir 1 juta  dolar AS setiap bulan dari pekerja ilegal asal Malaysia.

Dalam penyelidikan parlemen yang diadakan di Mildura, terungkap pula adanya penyalur di Sunraysia Victoria dan di Bowen Queensland yang menempatkan 15 pekerja di kamar-kamar jorok dan meminta bayaran per orang sampai 100 dolar AS per minggu.

Perusahaan penyalur itu bebas melakukan eksploitasi nyata karena petugas ketenagakerjaan dan imigrasi tidak memperhatikan hal ini. Penyelidikan parlemen ini bertujuan menyusun Undang-Undang Perbudakan Modern.

Pengacara di Melbourne Raj Thanarajah, yang menghubungkan seorang jurnalis Malaysia dengan ABC dan Fairfax untuk liputan mengenai pemetik buah asal Malaysia, menjelaskan bagaimana mereka mengeruk uang pekerja. Dia mengatakan bahwa isu-isu yang diangkat dalam laporan tersebut masih terus dilakukan penyalur tenaga kerja tidak bermoral yang menghasilkan jutaan dolar.

"Jika penyalur memiliki 800 pekerja, dan skema empat dolar AS per jam, mereka menghasilkan 25.600 dolar AS per hari. Setiap bulan mereka menghasilkan 768.000 dolar AS," kata Thanarajah.
Fakta Kejamnya Perbudakan Modern di Australia
Perkabungan untuk Paulo Kivalu yang meninggal September 2016 di Queensland.
Supplied

Falepaini Maile, seorang guru di Sydney yang peduli masalah Tonga, menangis saat memberikan kesaksian dalam penyelidikan parlemen. Maile menceritakan kondisi mengenaskan orang-orang asal negaranya tersebut yang bekerja di daerah Bowen, Tully, Mundubbera dan Childers di Queensland.

Maile menceritakan bagaimana dia membantu mengemasi barang-barang milik seorang warga Tonga, Paulo Kivalu (40 tahun), yang meninggal di Bowen tahun lalu. Dia merupakan satu dari tiga orang yang menurutnya meninggal karena kerja paksa, kekurangan makanan dan perawatan medis dalam 12 bulan terakhir.

"Yang paling menyedihkan saat polisi, saya dan orang lainnya mendatangi ke tempat tinggalnya," ujar Maile.

"Dia memiliki wadah plastik untuk semua barangnya dan kami menemukan beberapa mie Maggi," katanya.

Maile mengatakan penyalur tenaga kerja tersebut tidak membayar upah pria itu selama dua tahun, membuat istri dan kedua anak gadisnya di Tonga hidup tanpa apa-apa.

Kontainer tanpa ventilasi

Dia menjelaskan surat keterangan dana pensiuan pria tersebut menunjukkan dia hanya memiliki 1.360 dolar AS. Dalam penyelidikan parlemen Maile menjelaskan pembayaran baru dilakukan oleh perusahaan tenaga kerja pada hari meninggalnya Kivalu.

Maile mengatakan telah berbicara dengan pekerja Tonga yang tinggal di dalam kontainer barang tanpa ventilasi dan karavan sempit di daerah Childers dan Bowen di Queensland. "Pasokan air hanya satu keran dan air berwarna hijau berlendir," kata Maile.

"Pada malam hari ketika para wanita ingin ke kamar mandi, mereka pergi bersama, tidak aman," katanya.
Fakta, Mengungkap Seluk-beluk Perbudakan Modern di Australia
Kondisi hidup para pekerja asal Tonga dalam program Seasonal Worker sangat memprihatinkan.
Supplied: Falepaini Maile

"Mereka kedinginan, airnya bocor, dan mereka harus bangun jam empat untuk mulai bekerja," jelasnya.

Dia mengatakan para pekerja tersebut memasak di halaman. "Terlintas dalam pikiranku, bahwa Australia adalah negara maju di dunia. Dimana kita menemukan akomodasi seperti itu?" (Republika)

[www.beritaislamterbaru.org]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini