Ketiadaan Pelindung Ummat, Penghinaan Nabi Berulang Hingga Hilangkan Nyawa

Anggota serikat pengemudi becak membakar representasi bendera nasional India dan gambar Nupur Sharma, juru bicara partai nasionalis Hindu yang berkuasa, selama demonstrasi untuk mengutuk referensi menghina Islam dan Nabi Muhammad yang dibuat baru-baru ini oleh Sharma, di Karachi, Pakistan, Selasa, 6 Juni 2022. Siapa Nupur Sharma, Politikus India Si Penghina Nabi Muhammad? (Foto: AP Photo/K.M. Chaudary)

Berita
islam
- Dilansir dari republika, kepolisian India mengumumkan pada Sabtu (11/6/2022), bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India timur memakan korban dua remaja pada Jumat (10/6/2022). Bentrokan ini buntut dari pernyataan menghina yang dilakukan pejabat Bharatiya Janata Party (BJP) kepada Nabi Muhammad ﷺ.  Polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan kekerasan di kota Ranchi di negara bagian Jharkhand. Hanya saja tidak jelas apakah penyebab kedua korban terbunuh oleh polisi atau oleh perusuh. 

Sementara Indonesia mengecam India atas pernyataan pejabatnya karena "Islamofobia". Pernyataan tegas juga disampaikan Kementerian Luar Negeri Indonesia.
"Indonesia mengutuk keras pernyataan yang merendahkan Nabi Muhammad ﷺ oleh dua politisi India. Pesan ini telah disampaikan kepada Duta Besar India di Jakarta," cuit akun Twitter resmi Kemenlu, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (7/6/2022).

Masih dilansir dari cnbcindonesia, sebelumnya pernyataan Juru Bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), Nupur Sharma di sebuah televisi nasional. BJP adalah partai asal Perdana Menteri (PM) Narendra Modi. Pernyataan Nupur Sharma dalam sebuah debat di televisi disebut menghina Nabi Muhammad SAW.

Hal ini kecaman oleh negara-negara Arab. Bahkan hingga muncul aksi boikot produksi Negeri Bollywood tersebut. Sejumlah media setempat melaporkan boikot produk-produk India. "Pusat perbelanjaan besar di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain menghapus produk India," cuit South Asia Index, Minggu (5/6/2022).

Arab Saudi melalui pernyataan resmi kementerian luar negeri menyebut pernyataan para pejabat India menghina. "Meminta penghormatan terhadap kepercayaan dan agama," tulis kementerian dikutip AFP.

Hal sama juga dilakukan Qatar. Bahkan negara itu juga menuntut India meminta maaf atas komentar "Islamofobia" ketika Wakil Presiden India Venkaiah Naidu datang mengunjungi negara itu untuk meningkatkan perdagangan.

Kuwait pun bereaksi. Di media sosial bahkan aksi boikot produk India juga telah disuarakan.

Mengapa Terus Berulang?
Umat Islam mana pun pasti tidak akan rela orang pilihan Allah, teladan terbaik bagi umat manusia di seluruh alam ini, Sayidina Muhammad ﷺ, dihina dan dinistakan. Orang yang maksum, yang Allah sucikan dari dosa dan dijamin masuk surga, dihina dan dinistakan. Sungguh merupakan tindakan yang melampaui batas! Berulangnya kasus penodaan dan penistaan agama ini membuktikan bahwa Sistem kapitalisme telah gagal menjaga kemuliaan dan kesucian Nabi Muhammad ﷺ. 

Jika kaum muslimin diam saja terhadap penistaan Islam dan penghinaan terhadap Rasulullah ﷺ, para pelakunya akan merasa aman. Hal ini wajar karena sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan manfaat sebagai asas akan melahirkan kebebasan, yaitu kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan bertingkah laku. 

Sanksi bagi Pelaku Penghina Rasulullah ﷺ
Bagi orang Islam, hukum menghina Rasulullah ﷺ jelas-jelas haram. Pelakunya dinyatakan kafir, sebagaimana ditegaskan dalam QS At-Taubah: 61, وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ رَسُوْلَ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ”Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, akan mendapat azab yang pedih.” (QS At-Taubah 61) 

Ayat ini tegas menyatakan bahwa orang yang menghina Rasulullah ﷺ akan mendapat azab pedih. Terlebih lagi, min babil aula ‘bila secara sengaja’ mencela, menjelek-jelekkan, menuduh, menistakan, dan sejenisnya, maka tindakan tersebut nyata kufur dan sanksinya adalah hukuman mati.

Pada masa Rasulullah ﷺ, ada seorang lelaki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi ﷺ. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya tidak melakukannya. Sampai pada suatu malam, istrinya mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi ﷺ. Merasa tidak tahan lagi, lelaki itu lalu mengambil kapak, kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan dia menghunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati.

Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah Swt. kepada Rasulullah ﷺ tentang kejadian tersebut. Pada hari itu juga, Nabi ﷺ mengumpulkan kaum muslim dan bersabda, “Bismillahi, aku minta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku, berdirilah!”  Lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai dia berada di hadapan Rasul ﷺ. Kemudian ia duduk seraya berkata, ”Akulah suami yang melakukan hal tersebut, ya Rasulullah ﷺ. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang kepadaku.” Lalu ia menceritakan kejadiannya. Tindakan lelaki ini dibenarkan oleh Nabi ﷺ.

Sistem Islam Punya Solusi
Berulangnya penghinaan terhadap Rasulullah ﷺ semestinya menumbuhkan kesadaran kepada kita bahwa hari ini tidak ada pelindung bagi kaum muslimin. Negara yang seharusnya menjadi pelindung bagi rakyatnya, tidak berfungsi sama sekali. Ini semua terjadi karena sistem Islam tidak diterapkan saat ini. Sangat berbeda dengan sistem Islam. Negara berfungsi sebagai junnah (perisai) bagi umat yang akan mencegah dan melindungi umat dari penghinaan terhadap Rasulullah ﷺ.

Allah SWT. Al-Khalik Al-Mudabbir telah memberikan banyak pujian kepada Rasulullah ﷺ dan memberikan penjelasan yang sangat jelas siapa saja yang termasuk orang yang menghinakan Rasulullah ﷺ, serta memberikan sanksi tegas bagi pelakunya, sehingga akan mencegah siapa pun untuk melakukan hal demikian. 

Islam telah sangat terperinci menjabarkan hal tersebut. Ini semua adalah bentuk penjagaan negara terhadap akidah umat. 

Syekh Ibnu Taimiyah menjelaskan batasan menghujat Nabi Muhammad ﷺ, “Kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabatnya, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan.” 

Islam sebagai Din yang sempurna, tidak akan membiarkan tersebarnya pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, tidak ada larangan seseorang untuk berpendapat selama tidak bertentangan dengan akidah dan hukum-hukum Islam, bahkan berkewajiban untuk mengoreksi penguasa ketika ia melihat ada kebijakan penguasa menyimpang dari syariat.

Islam memandang bahwa akidah dan syariat Islam adalah perkara penting yang harus eksis di tengah-tengah masyarakat, negaralah yang akan mewujudkannya. Atas dasar ini, negara tidak akan menoleransi pemikiran, pendapat, perbuatan, atau sistem hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam, termasuk penistaan terhadap Rasulullah ﷺ.
Wallahua'lam

[news.beritaislam.org]



0 Response to "Ketiadaan Pelindung Ummat, Penghinaan Nabi Berulang Hingga Hilangkan Nyawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini Banner iklan disini