Inikah Sosok Audrey Yu Jia Hui Wanita Digadang-gadang Jadi Calon Menteri Jokowi? SMP 1 Tahun, SMA 11 Bulan

Audrey Yu

Beritaislam - Publik dihebohkan dengan sosok Audrey Yu Jia Hui. Gadis muda 25 tahun itu disebut sebagai sosok yang super ajaib.

Bagaimana tidak, Arek Suroboyo asli kelahiran 1 Mei 1988 tercatat menjalani jenang pendidikan yang cukup luar biasa singkat.

Disebutkan, pemilik nama lahir Maria Audrey Lukito ini butuh lima tahun untuk menempuh jenjang sekolah dasar.

Sedangkan jenjang SMP dilalui hanya dalam tempo satu tahun dan SMA hanya dalam waktu 11 bulan saja yang saat itu usinya baru 13 tahun.

Lantaran tak ada universitas di Indonesia yang mau menerima mahasiswa dengan usia yang dianggap ‘belum mencukupi’ itu, ia memutuskan hijrah ke Amerika Serikat.

Akhirya, ia mulau menempuh kuliah di The College of Wiliam and Mary, Virginia jurusan Fisika yang dipungkasinya saat ia usia 16 tahun.

Yang cukup mencengangkan, Audrey lulus di salah satu universitas terbaik di AS itu dengan Summa Cum Laude.

Berdasarkan penelusuran PojokSatu.id, Audrey ternyata memiliki sebuah laman yang menjadi sarana baginya menumpahkan seluruh isi hatinya, yakni audreyyujiahui.com.

Dalam salah satu tulisan, Audrey mengakui bahwa kejeniusan yang dimilikinya membawanya dalam kondisi yang cukup tak mengenakkan.

“Saya mengalami kemalangan bahwa dilahirkan sebagai anak ajaib di negara yang sangat mengecilkan pemikiran kritis, di mana warga negara pada umumnya tidak suka berpikir terlalu dalam,” tulisnya.

Saat masih TK, ia mengaku sudah mulai mempertanyakan makna hidup yang kenyataannya, malah membuat orang-orang di sekitarnya ketakutan.

“Jadi saya harus berpura-pura tidak berpikir, seperti yang diharapkan orang, sementara diam-diam menyimpan semua pertanyaan di dalam hati saya,” lanjutnya.

Bahkan, di usia kanak-kanak itu, enam tahun tepatnya, menjadi kali pertama ia tertarik mempelajari propaganda nasional dan ideologi negara.

Saat itu pula, ia mengaku menjadi momen dirinya merasa jatuh cinta dengan Pancasila, dasar negara Indonesia.

“Saat itulah diam-diam mencoba memahami makna hidup dan kebahagiaan, dan karenanya saya langsung jatuh cinta pada ideologi nasional negara saya (Pancasila),” beber dia.

Kecintaa terhadap Pancasila itu pula yang kemudian membuat rasa patriotisme di dadanya makin membara. Tapi lagi-lagi, ia harus memendam hal itu sangat dalam.

“Saya juga jatuh cinta pada patriotisme di negara di mana patriotisme sering dianggap palsu, sebagai kepura-puraan belaka,” katanya.

Ia pun sangat menyayangkan perilaku orang Indonesia yang seperti enggan membedakan antara orang Indonesia keturunan Tionghoa, budaya Tionghoa, orang yang lahir dan besar di Tiongkok.

“Serta evolusi ideologi Marxis (misal: perbedaan antara Korea Utara dan Marxisme Cina kontemporer). Jadi saya selalu (menjadi) orang luar, tidak pernah dipahami, selalu harus berpura-pura demi kehormatan keluarga saya,” bebernya.

Dengan ‘pengasingan’ masyarakat yang diterimanya, ditambah keterpaksaan untuk selalu menyembunyikan kecintaannya kepada bangsa Indonesia dan seluruh ideologinya, ia pun memilih study-nya sebagai satu-satunya pelarian.

“Dalam kehidupan tanpa hubungan manusia yang tulus (bukan karena kurangnya upaya saya; rekan senegara saya tidak bisa memahami ide-ide saya), belajar (study) adalah satu-satunya kesenangan saya,” tulisnya.

Usai menggenggam gelar sarjana, Audrey juga memiilki keinginan yang tak biasa selayakanya gadis keturanan lainnya. Audrey ingin menjadi anggota TNI.

Sayangnya, keinginan kuat itu malah mendapatkan banyak penolakan sekaligus pelecehan ras.

“Saya menjadi beban cemoohan dan ancaman dari semua pihak (bahkan dari keluarga saya sendiri), serta pelecehan ras yang tak ada habisnya,” tuturnya.

Hal itu lantas menbuatnya depresi yang kemudian dituangkannya ke dalam delapan buku yang berhubungan dengan identitas nasional Indonesia.

Bahkan, tiga buka diantaranya telah diarsipkan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia.

“Termasuk Perpustakaan Universitas Harvard, Perpustakaan Kongres Nasional, Perpustakaan Nasional Australia, Universitas Leiden, Universitas Melbourne, Universitas Yale, Universitas Cornell, UC-Berkeley dan banyak lainnya,” beber Audrey.

Kendati demikian, bukan berarti Audrey lepas dari permasalahannya selama ini, yakni identitasnya sebagai warga keturunan Tionghoa.

Pelecehan serupa juga didapatkannya dari berbagai pemimpin agama. Hal itu terjadi lantaran ia tengah dalam masa pencarian akan agama di awal kehidupan.

“Di negara di mana nasionalisme hanya sedalam kulit, para pemimpin agama memegang banyak kekuasaan, dan banyak dari mereka (sayangnya) tidak dapat menangani kekuatan itu dengan baik,” tulisnya.

Sejak Juli 2014 lalu, Audrey mengajar di sejumlah lembaga pendidikan di Tiongkog seperti Shanghai Jiaotong University, DS Education, dan U-Elite Shanghai untuk mengajarkan sastra Inggris.

“Saya telah bekerja di berbagai tempat, dan mulai menetap di Shanghai sejak Maret 2015,” ucapnya.

Menurutnya, hidup di RRC memiliki tantangan secara fisik. Akan tetapi, disana, sangat baik bagi dirinya.

“Sebab di sini hampir semua orang mampu mengerti patriotisme dan idealisme saya! Tidak ada yang menganggap saya ‘sinting’ atau ‘aneh’,” katanya.

Namun, hidup di negeri orang bukan berarti cinta dan patriotismenya kepada Tanah Air luntur. Sebaliknya, cintanya semakin berkobar.

“Dan cinta saya pada Pancasila justru semakin berkobar setelah sekian lama di luar negeri,” tulisnya di laman blog patriot-bangsa.org.

Saat ini, Audrey sudah berusia 31 tahun. Pada tahun 2017 lalu, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 71 ikon Prestasi Indonesia. [itoday]

[news.beritaislam.org]

Posting Komentar untuk "Inikah Sosok Audrey Yu Jia Hui Wanita Digadang-gadang Jadi Calon Menteri Jokowi? SMP 1 Tahun, SMA 11 Bulan"

Banner iklan disini