Rasanya Debat Capres memang Tak Ada Gunanya






 Rasanya Debat Capres memang Tak Ada Gunanya

APA GUNANYA DEBAT CAPRES ?


Oleh: Nasrudin Joha 

Tidak ada urgensi debat capres, tidak ada yang butuh diketahui dari apa yang direncanakan paslon untuk membangun negeri ini, apalagi incumbent. Bagi petahana, empat tahun lebih memimpin bangsa, adalah tayangan Genue tentang konsepsi, ide dan tindakan yang tak terbantahkan.


Jadi petahana lebih tak membutuhkan debat capres. Sebab, debat tadi pasti mengujar kedustaan jika tidak sesuai dengan apa yang dilakukan selama hampir lima tahun ini. Bahkan, jika petahana mengulang ide dan konsepsi yang pernah ditawarkan 2014 lalu, nantinya hanya akan menjadi ujaran kosong yang diulang-ulang dan menjemukan.

Bagi penentang, mungkin akan lebih bermanfaat. Sebab, ujaran penantang memang baru ide, konsepsi, belum pernah direalisasikan karena memang belum menjadi penguasa. Setidaknya, mimpi yang ditawarkan penantang lebih membius ketimbang yang diunggah petahana.

Bagi petahana, debat capres ini justru menjadi semacam 'jebakan batman' dikarenakan beberapa sebab :

Pertama, semua kontestan dan partai pendukung tidak melihat substansi debat sebagai suatu ujaran  ide dan konsespsi untuk membangun bangsa, tetapi ladang penyerangan/pembantaian. Semua kubu akan memelototi debat, menginventarisasi kesalahan dan kelemahan lawan, lantas menggunakannya untuk memeloroti elektabilitas lawan.

Meyakinkan pemilih dalam tempo singkat jauh lebih sulit ketimbang menumbangkan kepercayaan pemilih. Kandidat calon yang sudah mapan sekalipun, dengan kesalahan tertentu dan teknik pengungkapan yang tepat, bisa berbondong-bondong bedol deso ditinggalkan pemilih.

Dalam hal ini, kubu Jokowi yang paling riskan. Kubu Jokowi menapaki panggung debat laksana menginjak bara api neraka. Belum lagi kubu Jokowi berdeklamasi tentang masa depan bangsa, seluruh pasang mata seolah mendakwa dengan kalimat 'ELU EMPAT TAHUN LEBIH NGAPAIN ? ELU JANJI MELULU, SEKARANG MAU TAMBAH DOSA?'.

Belum lagi, kekurangpiawaian (baca : gagap) Jokowi mengujar kalimat-kalimat atau redaksi kampanye, redaksi menyihir, yang kadang harus dibantu dengan contekan, jika terselip lidah akan menjadi bumerang bagi Jokowi. Kubu lawan, tidak akan melewatkan satupun momen kesalahan untuk mendowngrade suara Jokowi.

Maka wajar, jika TKN Jokowi usulkan penyampaian visi misi calon cukup oleh Timses. Mungkin, TKN Jokowi tidak mau membuat kesalahan sejak dini, meskipun mereka paham menampilkan Jokowi dalam diskusi diruang publik sangat berpotensi menimbulkan masalah.

Kedua, jarak tempo antara debat dengan waktu pemilihan tak terlalu jauh. Jika 'energi buruk' dari hasil inventarisasi kesalahan-kesalahdn debat bisa dikapitalisasi dan dilanggengkan hingga saat pencoblosan, wah bisa gawat. Ini sama saja mengantarkan diri menuju jurang kekalahan.

Ketiga, debat politik atau penyampaian visi misi, hakekatnya hanyalah parade massal untuk menyihir pemilih. Rakyat, tidak mungkin disuguhi konsepsi subtantif untuk jangka waktu lima tahun Kedepan dalam tempo beberapa jam saja. Bahkan, untuk luasan isu yang tdk bisa dijelaskan secara instant.

Yang paling mudah adalah cek rekam jejak. Bagi Jokowi, rekam jejaknya adalah kedustaan, ingkar janji, zalim dan khianat. Bagi penantang, baru sebatas janji dan komitmen.

Publik yang waras, meskipun keduanya (pertahana dan penantang) berpotensi mengecewakan, tetapi tentu lebih memilih janji dan komitmen ketimbang melabuhkan pilihan pada
kedustaan, ingkar janji, kezaliman dan pengkhianatan.

Dari ulasan tersebut diatas, rasanya debat capres memang tak ada gunanya. Debat capres, adalah ladang penghakiman, pembantaian, kuburan masal bagi setiap dusta dan pengkhianatan. Jadi, Anda yang terbiasa berdusta dan khianat, lebih baik jauhi panggung debat. [].

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: