HOAX Container Suara Vs Hoax JOKOWI






HOAX CONTAINER SUARA VS HOAX JOKOWI

Beritaislam - Oleh: Nasrudin Joha

Salah satu unsur yang paling penting untuk menindak suatu kejahatan adalah unsur 'kerugian' yang ditimbulkan. Karenanya, meski sama-sama jahat, polisi wajib memprioritaskan pelaku kejahatan perampokan dengan pembunuhan ketimbang pelaku pencurian.


Kenapa ? Kerugian yang ditimbulkan pelaku perampokan dengan pembunuhan lebih besar, sebab dalam pencurian itu hanya rugi harta. Sedang perampokan dan pembunuhan rugi harta, rugi nyawa, rugi teror dan ketakutan, ruginya kenyamanan publik, dll.

Dalam kasus hoax container suara vs hoax Jokowi, semua juga sepakat hoax Jokowi lebih merugikan disebabkan :

Pertama, hoax Jokowi (yang telah diabadikan dalam monumen 66 janji hoax Jokowi) telah menimbulkan kerugian yang nyata, bagi seluruh rakyat dan segenap tumpah darah Republik Indonesia. Kenaikan tarif TDL, harga BBM, utang LN, pengangguran, utang BUMN, harga sembako, dibarengi dengan turunnya pertumbuhan ekonomi, turunnya harga sawit, karet, termasuk sulitnya hidup di era Jokowi ini dalam imbas dari hoax yang diproduksi Jokowi.

Sementara hoax container suara, itu belum merugikan siapapun. Kalaupun ada itu hanya asumsi. Misalkan : asumsi merugikan petahana, merugikan KPU, merugikan publik, dll.

Hikmah (baca: manfaat) yang dapat diperoleh dari bergulirnya isu hoax container suara adalah : rakyat makin waspada, setiap orang akan hati-hati pada setiap container yang tiba di pelabuhan, KPU jadi lebih 'hati-hati' karena sadar pekerjaannya diawasi, sementara penguasa tidak bisa semaunya menyalahgunakan kekuasaannya untuk memenangkan pertarungan dalam Pilpres.

Kedua, hoax politik Jokowi adalah hoax nyata, bukan hoax isu. Tentu dampaknya lebih nyata, bukan sekedar  pengkondisian opini. Siapapun paham, hoax politik Jokowi itu lebih berbahaya karena dampaknya sangat luar biasa (sebagainya dijelaskan pada poin pertama).

Karena hoax politik penguasa maka hoax model ini tidak mungkin dapat disentuh aparat penenggak hukum. Mengapa ? Karena hukum sudah menjadi alat kekuasaan, politik (baca: kekuasaan) adalah panglimanya.

Sementara hoax yang ditudingkan kepada lawan politik yang tidak berkuasa, hoax yang disuarakan rakyat jelata, itu levelnya hanya sebatas gosip. Tidak berdampak apapun bagi rakyat, paling hanya bikin ribut didunia maya doang.

Karena itu, aneh jika rezim Jokowi begitu 'Perkasa' meminta aparat tegas terhadap hoax yang ditudingkan kepada rakyat jelata, sementara hoax politik yang diproduksi dan diternak rezim, tidak tersentuh. Ini mau menegakan hukum atau unjuk kekuasaan ? Kalau ini unjuk kekuasaan, bolehlah ! Silahkan keluarkan lagi kezaliman yang lebih zalim, kami tinggal menginventarisasi dan kelak akan kami balas 'minimal dengan yang setimpal' dan jika pun kami luput membalas, Allah SWT pasti membalasnya, didunia dan di akherat.

Jadi, jengkel sekali saya dengan ulah rezim yang berbusa menebar teror tentang isu hoax, sementara hoax rezim ditutup rapih dilemari besi. Dikiranya semua rakyat ini cebong yang tak pake otak melihat peristiwa. Asal kasih keterangan cepat meskipun bohong. Luar biasa hidup di negeri sendiri, justru ditakut takuti oleh penguasanya.

Bukannya melindungi rakyat dari serangan musuh, tapi justru penguasa yang membuat rakyat tidak tenteram, tidak nyaman. Semoga cepat berakhir semua kengerian ini ya Allah, Amien YRA. [].

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "HOAX Container Suara Vs Hoax JOKOWI"

Post a Comment