Negeri Pimpinan Sengkuni






Negeri Pimpinan Sengkuni

Beritaislam.org - Oleh : Ki Ageng Bengawan Solo

Beberapa saat usai Pilkada serentak dilaksanakan. Publik diterpa info tak sedap tentang kenaikan BBM. Yang dialamatkan kesalahannya kepada Pertamina. Di tengah semakin melemahnya rupiah yang diplesetkan sebagai akibat semakin menguatnya dollar. Hari Rabu, 03 Juli 2018, jam 13.00 WIB, bank jual Dollar sejumlah Rp. 14.600,-. Menunggu hingga menyentuh angka Rp 15 ribu @ dollar US lalu secara otomatis langsung diimpeachment. Sementara hutang luar negeri sebagaimana diprediksikan oleh para pakar semakin meninggi. Dirasionalisasi oleh rezim status quo masih dalam batas wajar terhadap PDB. Tidak penting belum mencapai 6 persen pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang dijanjikan.

Berkembang di medsos, problem penghitungan real count pilkada di server KPU karena diretas. Padahal sudah dibiayai puluhan triliun rupiah. Memperkuat dugaan publik adanya indikasi kendali atas kemenangan politik. Melalui pintu sistem penghitungan suara. Melengkapi problem ikutan kontestasi politik lainnya. Antara lain : money politic, black campaign, dan anarkisme akibat kekalahan politik.

Gambaran di atas melengkapi info semakin banyaknya deretan kepala daerah yang dicokok oleh KPK sebagai tersangka. Di antara mereka sebagian barusaja menang Pilkada. Bagi para tokoh pendukung rezim, fenomena di atas dianggap sebagai problem orang. Terkait dengan law of enforcement. Bukan problem sistem. Meski kasusnya masif dan sistemik. Seolah sudah menjadi dogma yang mendangkalkan dan mendungukan banyak orang. Masih penuh harap muncul sosok pemimpin yang adil dan amanah. Di tengah sistem yang bobrok. Logika hukum berkeadilan dan berkepastian tidak lagi menjadi parameter. Logika kekuasaan mengemuka. Pembawa kebenaran dan ketulusan disalahkan dan dikriminalisasi. Kesalahan dibela dengan keblinger sampai klenger. Salah satu ormas pejuang ajaran Islam Khilafah jalan damai, di antara korbannya. Korban dari arogansi kekuasaan di atas nalar tidak sehat. Modus politik lebih menonjol berada di baliknya. Khilafah sebagai solusi tidak dilihat dengan murni dan sepenuh hati. Bahkan dianggap sebagai ilusi. Jika Ilusi, kenapa ditakuti dan dibui. Nampaknya Islamophobia barat menjadi epidemi. Di negeri yang gemah ripah loh jinawi. Buminya para wali. Negeri yang sekarang dipimpin para Sengkuni. Demokrasi  diyakini dengan harga mati. Diperjuangkan secara buta hati. Menunggu Alloh Azza Wa Jalla menetapkan pengadilan hakiki. Kemenangan dunia akherat bagi orang-orang mukmin yang menepati janji.

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: