Benarkah Taktik Djarot dan PDIP Dinilai Meleset Gara-Gara Pidato Megawati?








Beritaislam.org - Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) 2018 menunjukkan pasangan nomor urut 1, yakni Edy Rahmayadi-Musa Rajeksah (Ijek) berada pada posisi teratas. Dengan demikian, harapan pesaingnya, Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus, untuk memimpin Sumut kandas.

Melihat perjalanan Pilgub Sumut sebenarnya terbilang cukup panas. Sebab pada akhirnya, hanya dua pasangan kandidat yang bersaing setelah JR Saragih-Ance Selian digugurkan KPU karena dianggap tidak memenuhi syarat pencalonan.

Kekalahan yang dialami Djarot kali ini menjadi yang kedua dalam gelaran Pilkada. Sebelumnya, dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang digelar tahun lalu, Djarot juga mengalami kekalahan.

Saat itu ia dipasangkan dengan Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun Ahok-Djarot takluk dari duet Anies Baswedan-Sandiaga Uno setelah pemungutan suara putaran kedua.

Pengamat Sosial dan Politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar, menilai kekalahan yang dialami Djarot tidak lepas dari langkah PDIP, selaku partai pendukung utama, dalam menyusun taktik pendekatan kepada masyarakat Sumut dengan rentang waktu yang singkat.

Sebab, dalam beberapa bulan sejak dinyatakan sebagai calon gubernur oleh PDIP, Djarot yang berasal dari luar Sumut harus bisa dikenal oleh seluruh masyarakat. Padahal, secara geografis wilayah Sumut sangat luas, yakni sekitar 72.981 kilometer yang terbagi atas 33 Kabupaten/kota. Oleh karena itu menurut dia sebenarnya kekalahan Djarot memang sudah diperkirakan sejak awal.

“Karena desakan waktu yang singkat, mereka terburu-buru merancang program sehingga sembrono membuat langkah-langkah pendekatan terhadap masyarakat sehingga tidak menyentuh hati masyarakat,” kata Shohibul, Rabu (28/6).

Selama proses menggalang dukungan, kata Shohibul, Djarot juga dianggap tidak peka dan terlalu Jawasentris. Dia mencontohkan setelah penetapan Djarot sebagai calon gubernur, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan percaya diri berpidato menggunakan bahasa Jawa, demi meraih simpatik dari orang-orang Jawa yang berada di Sumut.

“Ketika pak Djarot ditetapkan jadi calon. Bu Megawati bilang, ‘nangkono okeh juga jowone’ (di sana banyak juga orang Jawa),” kata Shohibul.

Meskipun populasi suku Jawa di Sumut cukup banyak, tetapi menurut Shohibul taktik seperti itu kurang tepat. Sebab, di Sumut juga terdiri dari beragam suku seperti Melayu, Batak, Tapanuli/Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Karo. Seluruh elemen masyarakat di Sumut ini sangat membaur. Dengan ‘menjual’ Djarot adalah simbol pemimpin Jawa, maka akan timbul kekhawatiran dia tidak akan bisa adil.

“Tanpa harus membuat panji-panji ‘kulo niki Jowo loh’, Djarot bisa melesat,” kata dia.[kaffah]

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: