Perlawanan Semut Ibrahim yang Terinjak (Saksi mata Gerakan 212) Bagian 1 : Semua seakan dikomando untuk saling mendahulukan saudaranya yang lain
Langit Jakarta masih terlihat pekat ketika bus yang kami carter sejak 9 jam yang lalu dengan uang iuran memasuki area Metropolitan, di timur, semburat warna putih membayang sekilas, menandakan waktu subuh sebentar lagi tiba.
Tumbuhan perdu pembatas jalan raya dan area pejalan kaki di sekitar lapangan monas masih belum menampakan sosok aslinya ketika kaki rombongan kafilah kami menjejak bumi Monumen Nasional tepat di depan Gedung Pertamina yang angkuh dan temaran.
Bergegas seluruh rombongan dengan komando koordinator lapangan yang ditunjuk mendadak diperjalanan, mencari air wudhu untuk sesegera mungkin menunaikan 2 rakaat shalat shubuh, Alhamdulillah tak sampai 500 meter jauhnya, di depan gerbang Monas yang tertutup khusus untuk akhwat, tersedia dua kendaraan tanki air wudhu yang disediakan PDAM Jakarta dan PMI.
Syukurlah tak terlalu banyak kafilah yang hendak mengambil wudhu, sehingga kami bisa dengan leluasa berwudhu, segaaar dan begitu nyaman manakala air membasahi kulit ini.
Didepan mobil tanki, tampak berjejer akhwat berpakaian hitam hitam dengan cadar menutupi wajah mereka, entah dari Kalangan Hizbut Tahrir Indonesia, entah dari mana. Ditangan mereka terbuka kotak-kotak makanan, sambil berteriak-teriak… Silahkan, Ibu Bapak !!, yang belum sarapan, mengambil disini, gratis Ibu Bapak, silahkan..!! halal halal !!, seru mereka berulang ulang, tak bosan-bosan.
Sebelum kami putuskan menerima tawaran menggiurkan ini, rombongan segera mencari tempat yang lapang untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah.
Selepas shalat dan do’a, langit pagi semakin menampakan sosok-sosok asli di sekitar area pejalan kaki ini, beberapa pedagang peci dan baju koko tengah besiap menggelar dagangan mereka, lalu beberapa ikhwan tengah tertidur pulas beralas tikar seadanya, seakan tak perduli dengan kantung dan barang pribadi mereka yang biasanya rentan dicuri.
Sinar kemerahan di langit timur makin semburat, rombongan kafilah kami berkumpul untuk mendengar beberapa perintah dan arahan-arahan dari koordinator dadakan.. lalu setelah semua perintah disampaikan kami sepakat untuk mengambil sarapan yang tadi ditawarkan akhwat akhwat HTI, kami berbaris berbanjar, masing-masing mengambil sepotong roti isi, dan beberapa buah lemper. Di tempat yang terlihat kosong, kami duduk melingkar, menikmati sarapan pagi sederhana namun penuh hikmah ini, ditemani kerupuk dan tahu goreng bekal yang kami bawa dari rumah.
Selesai sarapan, kami putuskan untuk menuju ke Mesjid Istiqlal guna membersihkan diri, sekaligus menyelesaikan urusan rutin di pagi hari.
Lumayan sekitar lebih dari 600 meteran dari gerbang tempat kami sarapan untuk sampai ke masjid Istiqlal, serempak hampir seluruh onggota menuju toilet.. Subhanallah.. ternyata disini, sudah tercipta antrian yang cukup panjang, 10 toilet di sayap kiri dan 10 tolilet di sayap kanan masjid agaknya sudah tak mampu menampung jumlah Jemaah yang terus menerus berdatangan dari beberapa daerah, dari Lampung, dari Surakarta, dari Banten, Subang dan Probolinggo yang sempat berkenalan, yang lain entahlah, mungkin beberapa datang dari Indonesia bagian timur, terlihat dari ciri-ciri fisik mereka yang sedikit berbeda.
Daripada menyimpat bibit penyakit, kuputuskan untuk ikut antrian yang sudah mengular ini, tokh semakin siang, tuntutan hajat tak mungkin bisa dibendung lagi.. sepanjang apapun antrian, terimalah dengan dada lapang.. tokh ini semua ujian kesabaran..
Hampir setengah jam mengantri, ketika akhirnya aku kebagian jatah, itupun semua sepakat.. tak boleh mandi tak boleh sikat gigi !, cukup buang hajat.. selesai, cuci !, siram sampai bersih !, lalu berikan giliran pada yang lain..! ampyuuun.. ngantrinya setengah jam Cuma kebagian jatah 3 menit.. Alhamdulillah hati ikhlas menerimanya.
Jam sudah bertengger diangka 06.45 ketika sebagian besar rombongan selesai menuntaskan tuntutan jiwa, sebelum rombongan diputuskan untuk masuk arena lapangan Monas, kami berbagi tugas, sebagian mencari bus tumpangan untuk menyimpan perbekalan dan kantung yang tidak perlu dibawa, sebagian berusaha mempersatukan kembali anggota rombongan yang berceceran, sambil sarapan nasi kotak yang disediakan warga sekitar, Alhamdulillah tak henti mulut kami mengucap puji dan syukur ke khadirat-Nya..
Subhanallah, walhamdulillah, Allohu Akbar, sejak kami tiba di sini, di masjid Istiqlal, makanan datang tak henti-hentinya, sarapan pagi nasi kuning dengan menu alakadarnya hasil shodaqoh warga sekitar Istiqlal silih berganti datang, bubur kacang hijau dibungkus plastic, nasi putih, nasi kotak.. Air minum apalagi.. nyaris di setiap sudut Istiqlal para pemuda dari berbagai organisasi keagamaan seakan berebut memikat hati rombongan buat mengambil air dari kardus yang mereka sediakan.. halal.. halal.. silahkan gratis.. saling bersahutan.
Teriakan Takbir dari halaman Mesjid dan lantunan sholawat dari ribuan rombongan yang baru tiba, dan rombongan yang hendak berangkat menuju lapangan Monas benar-benar membuat Istiqlal yang demikian megah tenggelam dalam asma Illahi yang agung dan akbar. Allahu Akbar !!
Ketika rombongan kami sudah hampir lengkap, jam menunjukan 7.20 WIB. Kami sepakat untuk ikut rombongan lain segera memasuki arena lapangan Monas buat mendengarkan Tausiyah dari para ulama tanah air. Gema Takbir dan tahmid-pun kami lantunkan mengiringi langkah kaki , Bendera berlambang kalimat tauhid berkelebat megah, berpapasan dengan bendera-bendera ormas keagamaan asal para kafilah, ada bendera Muhamadiyah, Persis, HTI, HMI. FPI, Majlis Taklim, Syarekat Islam, DKM Mesjid dan lain sebagainya, ratusan jumlahnya.
Tiba di gerbang Utara Monas, rombongan kafilah sudah menyemut, lautan manusia berbaju putih, berkopiah putih dan beberapa diantaranya bersorban, memadati pintu masuk. Beberapa petugas berseragam POM TNI AD, TNI AL dan Polri tampak mengatur arus manusia yang jumlahnya sudah hampir puluhan ribu, namun wajah-wajah tegap anak muda petugas negara ini tampak begitu ramah dan antusias mengatur Jemaah, tak nampak aura kesal, apalagi emosi terpancar dari raut muka mereka, bahkan senyum senantiasa terkembang dari mulut-mulut ikhlas itu.
Meskipun jumlah jemaah sudah sedemikian banyaknya dipintu masuk, namun tak terlihat ada upaya saling berdesak-desakan, saling dahulu mendahului, semua seakan dikomando untuk saling mendahulukan saudaranya yang lain, kaum hawa menjadi prioritas utama, Subhanallah.. begitu indah suasana ukhuwah seperti ini, jarang sekali kita bisa menyaksikan peristiwa sehebat ini..
Bersambung.. .. insyallah segera !!
Sumber : FB Manihot ManYu Ultissima

