Merasa Aman karena Adzab Tak Tampak? Ini Peringatan Keras Bagi Muslim yang Siang Puasa Namun Malam Maksiat di Bulan Ramadhan
Di antara amalan yang wajib dilaksanakan setiap muslim di bulan Ramadhan adalah berpuasa.
Kebanyakan orang menahan diri untuk berbuat maksiat dan tidak melakukan perbuatan dosa hanya pada siang hari saat Ramadhan, karena dalam kondisi puasa. Namun pada malam harinya, seakan-akan bebas berbuat maksiat dan melakukan perbuatan dosa.
Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Ponpes Raudlatul Qur'an, Arjawinangun Cirebon menyebutkan kalau tindakan atau sikap itu sangat disayangkan.
Sebagaimana dikutip islam.nu.or.id, Ustadz M Mubasysyarum Bih menyampaikan, berpuasa atau beribadah di siang hari saat Ramadhan dan bermaksiat atau berbuat dosa saat malam harinya adalah tindakan yang bodoh.
Itu bisa terjadi karena kebodohan atau tidak terkontrolnya luapan emosi “balas dendam”. Jadi anggapan itu sesungguhnya tidak pantas dilakukan oleh orang beriman.
Untuk membenahi dan mengobati hal itu, perlu kiranya mengingat beberapa hal sebagai berikut:
1. Hikmah diwajibkannya puasa Ramadhan
Di antara hikmah diwajibkannya puasa Ramadhan seperti penjelasan Syekh Sulaiman al-Jamal, mengutip Syekh al-Barmawi, adalah agar dapat menghasilkan zuhud yang wajib dan sunnah.
Zuhud yang wajib itu adalah menjaga diri dari melakukan keharaman. Sedangkan zuhud sunnah artinya menjaga diri dari perkara makruh dan hal yang tidak bermanfaat.
Bila hikmah puasa ini dicermati dan dengan seksama, seseorang harusnya memiliki rem untuk melakukan keburukan, baik saat berpuasa maupun setelah berbuka atau pada malam hari.
2. Larangan Allah tentang merasa aman dari siksa
Segala perbuatan dosa pasti ada konsekuensi. Allah selalu mencatat amal keburukan manusia di mana saja dan kapan pun. Artinya semua tindakan atau perbuatan manusia tidak akan luput dari pengawasan-Nya.
Allah mengancam para pendosa dengan siksa-siksa. Tapi terkadang pendosa itu langsung ditimpakan secepatnya, terkadang dibiarkan seperti tidak ada siksa.
Namun, Allah menangguhkan azab sampai pada suatu waktu sekiranya semua dosa-dosa terkumpul, siksa-Nya akan menghujam dengan sangat deras, berbanding lurus dengan tumpukan dosa yang dilakukan manusia.
3. Berlanjutnya kebaikan sebagai tanda puasa diterima
Sesungguhnya Allah melatih manusia di bulan puasa untuk membiasakan diri berbuat kebaikan. Jadi perbuatan kebaikan tidak hanya di bulan yang suci, tapi juga dilakukan di bulan-bulan setelahnya.
Para ulama menjelaskan bahwa tanda puasa Ramadhan diterima adalah membiasakan puasa setelah Ramadhan.
Hal tersebut berlaku juga untuk semua jenis kebaikan yang dilakukan di bulan suci, misalnya bersedekah, membaca Alqur’an, shalat sunnah dan lain-lain.
Jika amal kebaikan serupa berlanjut dilakukan setelah Ramadhan, maka hal tersebut menjadi tanda diterimanya amal-amal serupa yang dilakukan di bulan suci.
Sebaliknya, jika setelah puasa kelanjutannya adalah berbuat dosa, maka itu adalah tanda ditolaknya puasa dan kebaikan lain yang dilakukan di bulan puasa
Merasa takut atau menahan diri dari melakukan perbuatan dosa pada siang hari saat berpuasa, itu merupakan hal positif. Tapi sangat disayangkan jika itu tidak dilakukan di malam hari saat bulan Ramadhan.
Padahal menahan diri dari perbuatan dosa di siang dan malam hari saat Ramadhan itu sebagai bagian dari upaya menjaga amal shaleh di bulan suci Ramadhan. ***
Sumber: islam.nu.or.id
[news.beritaislam.org]


Posting Komentar untuk "Merasa Aman karena Adzab Tak Tampak? Ini Peringatan Keras Bagi Muslim yang Siang Puasa Namun Malam Maksiat di Bulan Ramadhan"