Kendi Nusantara: Politik Klenik di Tengah Polemik (IKN)

Ilustrasi: Presiden Jokowi (kedua kiri) memberikan arahan kepada Gubernur se-Indonesia pada seremoni ritual Kendi Nusantara di titik nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Senin (14/3/2022).

Berita
islam
- Oleh: Syalika Rusma

Seakan tidak ada hentinya, di tengah penolakan dan proses gugatan masyarakat terhadap kelanjutan proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, pemerintah justru mengundang kehebohan lainnya. Diketahui jika pada Senin (14/3) Presiden Jokowi berkemah di titik nol IKN Nusantara yang mana pada acara tersebut, dijadwalkan juga hadir para gubernur se-Indonesia untuk melaksanakan ritual ‘Kendi Nusantara’. 

Disebutkan jika proses penyatuan tanah dan air di titik nol IKN Nusantara tersebut dinilai sebagai wujud kearifan lokal budaya masyarakat Indonesia. Hal tersebut tentu mengundang kritik dari masyarakat, sebab ritual tersebut dipandang sebagai suatu praktik politik klenik. Ubedilah Badrun kepada Kompas.com menyatakan bahwa praktek semacam itu dalam terminologi sosial budaya dan sosiologi politik bisa dikategorikan sebagai politik klenik. 

Suatu praktik politik mengimplementasikan kemauan penguasa (IKN) berdasar imajinasi irisionalitasnya yang meyakini semacam adanya mistisme tertentu. Lebih lanjut, beliau menyatakan jika praktik mengisi Kendi Nusantara dengan air dan tanah yang diperoleh dari berbagai provinsi di Indonesia merupakan suatu praktik yang mengada-ada dan diyakini sebagai proses yang mengandung pesan mistik.

Pendapat lain yang dilayangkan oleh masyarakat pun memberikan gambaran baru mengenai respon terhadap ritual tersebut. Masyarakat cenderung mempertanyakan urgensi dari pelaksanaan ritual Kendi Nusantara, sebab di saat polemik IKN tengah bergejolak, mengapa pemerintah meminta setiap gubernur untuk mengumpulkan tanah dan air asal daerahnya hanya untuk mengisi kendi tersebut.

Permasalahan mengenai politik klenik di tengah polemik IKN Nusantara tentu menjadi perhatian khusus. Sebab jika ditinjau dari segi tujuan, ritual Kendi Nusantara justru tidak sesuai dengan tujuan dan latar belakang IKN Nusantara yang berlandaskan kemajuan teknologi untuk menjawab tantangan pada masa depan. 

Dari segi urgensi pun tidak terlihat keharusan dari ritual Kendi Nusantara, justru hal tersebut dirasa sebagai hal yang tidak perlu dilakukan, terlebih di situasi yang tidak stabil seperti sekarang ini. Terjadinya politik klenik mengenai Kendi Nusantara pun terlihat sebagai kemunduran suatu peradaban bangsa, karena rasionalitas masyarakat modern memandang hal tersebut sebagai praktik kuno dan erat kaitannya dengan hal mistis. 

Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang mayoritas beragama Islam, maka jelas hal tersebut sangat bertentangan dengan akidah Islam. Sebab, politik klenik cenderung mengacu pada hal mistis dan identik dengan kesyirikan. Inilah gambaran nyata penerapan sistem pada saat ini yang mana kesyirikan dilanggengkan bahkan dicontohkan langsung oleh pemimpin negeri ini. Dari sini jelas terlihat bahwa sekulerisme menjadi dominasi dasar penerapan sistem di negeri ini. Sebab aliran sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan, menjadi dasar terjadinya penyimpangan tersebut. 

Masyarakat yang sengaja dijauhkan bahkan dijerumuskan pada penyimpangan akidah tersebut menjadi bukti cacatnya sistem pada saat ini. Sehingga tidak semestinya kita menaruh harapan pada sistem yang diberlakukan pada saat ini.

Problematika dasar yang terjadi pada saat ini jelas pada kekeliruan sistem dan ideologi dasar negara ini. Suburnya sekulerisme menjadi alasan jauhnya masyarakat dari hukum-hukum Allah. Terlebih politik klenik yang mengandung unsur mistis mampu mengantarkan terhadap kemusyrikan. 

Menjadi hal yang berbahaya jika hal ini terus dibiarkan, sebab perlu kita ingat jika kesyirikan merupakan dosa besar, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa : 48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik)…”. 

Sudah seharusnya masyarakat sadar jika mereka dijauhkan dari akidah Islam yang lurus. Sehingga, sudah waktunya umat Islam menuntut sistem yang mampu menjaga akidah Islam dan melindungi masyarakat dari praktik kemusyrikan seperti politik klenik yang diterapkan di sistem demokrasi sekuler saat ini. 

Sistem yang bisa menjamin agar akidah Islam terlindungi jelas hanya sistem Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar untuk membangun sebuah negara. Andaikata semua umat menyadari hal ini, tentu permasalahan mereka akan terurai dengan baik. 

Peredaman polemik masyarakat yang terjadi tentu akan diselesaikan dengan hukum Islam, bukan justru menggelar ritual yang bahkan urgensinya tidak jelas dan bahkan mengantarkan pada kesyirikan. Sudah saatnya umat muslim bersatu dan menyadari jika sistem Islam merupakan solusi yang perlu diperjuangkan. Sebab hanya dengan khilafah islamiyah lah akidah Islam akan terjaga dan menjadi dasar kehidupan umat. Wallahu’alam.

[news.beritaislam.org]

Posting Komentar untuk "Kendi Nusantara: Politik Klenik di Tengah Polemik (IKN)"

Banner iklan disini