Fenomena Boneka Arwah, Fakta di Balik Tuntutan Tren yang Menyesatkan dan Paganisme Modern

Orang dewasa Thailand yang percaya takhayul terobsesi terhadap boneka setelah seorang selebriti lokal memuji boneka itu karena kemampuannya membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Foto: Reuters: Athit Perawongmetha. 2016.

Beritaislam - Fenomena adopsi boneka arwah atau spirit doll tengah viral di media sosial. Publik pun tidak henti memperbincangkan hal yang sulit masuk nalar ini. Pasalnya, beberapa artis tanah air mengaku mengadopsi dan memperlakukannya layaknya anak sendiri. Memberinya makanan, pakaian, memandikan, bahkan mengajaknya jalan-jalan. Lantas, benarkah fenomena ini karena tren dan paganisme modern?

Pro dan Kontra

Melansir theculturetrip.com, boneka arwah awalnya berkembang di Thailand. Di sana, boneka arwah disebut sebagai Luk Thep alias malaikat anak. Masyarakat meyakini bahwa boneka yang terbuat dari plastik tersebut merupakan tempat bersemayam makhluk metafisika yang membawa keberuntungan dan kemakmuran di masa depan. Pun, mereka memperlakukannya seperti bayi atau anak secara umum.

Citra boneka plastik itu kemudian menjadi komersial setelah seorang ahli ritual bernama Mae Ning mengklaim bahwa Luk Thep bisa membawa keberuntungan. Hal ini lalu mendorong para biksu Buddha dan peramal mengadakan ritual untuk menempatkan roh “keberuntungan” ke dalam boneka plastik. Semakin tidak terkendali ketika selebritas Thailand ikut menciptakan tren membawa serta Luk Thep ke mana pun mereka pergi. Hal ini kemudian menjangkiti artis di negara-negara lain, termasuk di Indonesia.

Mencermati fenomena boneka arwah, tentunya tidak bisa menghindari pro dan kontra. Melansir klikdokter.com, 5/1/2022, psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi. mengungkapkan pentingnya mencermati tujuan penggunaan boneka tersebut untuk mengetahui dampak boneka arwah terhadap penggunanya.

Menurutnya, pada satu sisi, boneka arwah dapat digunakan sebagai sarana penyembuhan gangguan psikologis dan perilaku pada pasien demensia. Namun, pada sisi lain, penggunaan boneka arwah dapat berdampak negatif bagi penggunanya, terutama ketika boneka arwah mengganggu kesadaran individu terhadap realitas yang ada. Bisa jadi pemilik boneka sudah tidak bisa lagi membedakan mana realitas dan mana imajinasi atau khayalan.

Lebih jauh, dalam sudut pandang Islam, masyarakat tidak boleh memelihara makhluk halus. Hal itu sebagaimana ungkapan Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI K.H. Muhammad Cholil Nafis. Menurutnya, jika boneka arwah dijadikan teman, sama halnya berteman dengan jin. Sementara, jika sudah disembah dan dikultuskan, seperti memberi makan, pakaian, hingga merawatnya seperti manusia, hal itu sudah termasuk dalam perbuatan syirik.

Tuntutan Tren
Tokoh publik merupakan sentral perhatian. Segala yang terjadi pada mereka pasti menjadi buah bibir. Alhasil, bukan tidak mungkin mereka menggunakan boneka arwah hanya sebatas tren guna menyedot perhatian warganet. Betapa tidak, meski figur publik tersebut sudah tersohor sejak lama, kehausan mereka akan perhatian khalayak tetaplah besar. Mengingat, hal tersebut adalah bagian dari keseharian mereka. Perhatian publik ibaratnya sudah menjadi kebutuhan pokok.

Tuntutan tren dan gaya hidup inilah yang kemudian memengaruhi perwujudan perilaku seseorang. Bahkan, dari tren ini, seseorang bisa menjadi lebih terkenal karena boneka yang dimilikinya. Unggahan seorang tokoh publik bisa dijadikan ajang pansos atau panjat sosial oleh tokoh publik lain. Trik menaikkan popularitas ini sangat lumrah di kalangan artis.

Selain itu, fenomena boneka arwah ini seolah menjadi solusi bagi mereka yang memuja konsep childfree (hidup tanpa dibebani oleh kehadiran anak). Makhluk bernyawa yang bisa makan dan minum sungguhan itu tampak tidak lebih berharga daripada seonggok boneka plastik. Padahal, meskipun boneka arwah diperlakukan seperti buah hati sendiri, tetap saja dia tidak bisa merespons balik layaknya anak manusia sungguhan.

Ya, penganut boneka arwah dan childfree tampaknya lupa bahwa manusia pada dasarnya memiliki naluri melestarikan keturunan. Hal ini tidak terbantahkan, sudah menjadi sunatullah. Buktinya, mengapa harus ada boneka arwah kalau memang berpegang teguh pada childfree? Lagi-lagi tren ini menjadi kontraproduktif. Beginilah jika tidak memosisikan naluri sebagaimana tempatnya.

Pun, tren yang tidak kalah merusak adalah industri komersialisasi. Sistem kapitalisme mengondisikan segala sesuatu diukur berdasarkan materi. Tidak peduli halal atau haram. Kekosongan jiwa dan iman yang lemah dari kaum borjuis dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk meraup pundi-pundi rupiah. Bisa dipastikan, orang-orang memanfaatkan momen ini untuk menjual boneka arwah dengan beragam bentuk dan harga mahal.

Peneliti Sastra dan Budayawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr. Sunu Wasono berpendapat, viral fenomena artis yang mengadopsi boneka arwah tersebut murni untuk kepentingan bisnis saja. Menurutnya, ada narasi lewat media sosial yang sengaja dibangun sedemikian rupa sehingga orang tertarik untuk membeli boneka arwah. (kompas.com, 6/1/2022).

Paganisme Modern
Fenomena boneka arwah di Indonesia sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Julia Inglis dalam tulisannya “My Dollmaker Story” menyatakan bahwa boneka arwah adalah makhluk kuno, akrab, dan dicintai banyak budaya di seluruh dunia. Menurutnya, dengan membuat boneka arwah, ada jalinan ikatan dengan leluhur pembuatnya.

Lebih jauh, dalam kultur Jawa, boneka arwah juga pernah dibuat, bahkan menjadi permainan anak-anak kecil di masa dulu. Sebut saja permainan jelangkung, yakni arwah didatangkan lalu ditanya siapa namanya, kapan meninggalnya, dan memberikan informasi terhadap sesuatu yang akan terjadi. Artinya, boneka arwah memang bukan sekadar boneka biasa, tetapi juga memiliki unsur magis.

Adapun kepercayaan terhadap roh diperkuat dengan hadirnya paham Hindu dan Buddha. Mereka percaya bahwa manusia bisa hidup dan membangun harmonisasi dengan entitas roh tersebut sehingga dari hasil harmonisasi itulah lahir perilaku menghadirkan roh dalam visualisasi diri orang dan boneka atau benda bertuah.

Pada zaman sekarang, para ahli supranatural bahkan mengklaim bahwa boneka berisi arwah benar-benar ada. Arwah tersebut dimasukkan ke dalam boneka dan mereka memiliki kelebihannya masing-masing dan dapat menolong si pemilik. Jika demikian, lantas apa bedanya boneka arwah ini dengan praktik pesugihan? Bahkan, dengan boneka arwah, ini lebih layak disebut sebagai pesugihan modern karena lebih terbuka. Si pemilik tidak malu menunjukkan boneka arwah tersebut kepada publik.

Padahal, bagi mereka yang akalnya masih jalan, meskipun boneka “diisikan” arwah, pada dasarnya ia tetaplah benda mati yang tidak perlu dimuliakan atau diperlakukan seperti manusia. Apalagi sampai meyakini bahwa “arwah” yang bersemayam di tubuh boneka tersebut dapat mendatangkan ketenangan bagi si pengadopsi. Sungguh, akidah umat kian tergerus oleh kemusyrikan berlabel “spirit”. Sebab, sebenarnya boneka arwah ini tidak lebih dari berhala modern. Na’udzubillah!

Spirit Hakiki
Dalam sistem kapitalisme sekuler, masyarakat yang gandrung akan boneka arwah merupakan sebuah kewajaran. Sistem kehidupan ini memang meniscayakan demikian. Urusan penyaluran naluri ini dianggap ranah privasi individu yang tidak bisa diutak-atik negara. Itu semua terbukti dari diamnya penguasa terhadap fenomena ini. Tidak ada klarifikasi tegas terkait sikap negara.

Meskipun disampaikan melalui Kementerian Agama bahwa mengadopsi boneka arwah bertentangan dengan akidah, tetapi tidak ada sanksi tegas bagi para pelaku, baik penjual maupun pembeli.

Padahal, menelisik dari faktanya, boneka arwah bukan sekadar distribusi gharizah, melainkan penjagaan akidah umat yang sifatnya struktural. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh negara Khilafah sebagaimana Islam mengaturnya. Menetapkan beberapa aturan agar spirit yang dihadirkan benar-benar sesuai syariat, menghindarkan umat dari perbuatan menyekutukan Allah Swt.

Pertama, negara melarang praktik-praktik yang mengarah kepada kemusyrikan, termasuk perdukunan, ramal-meramal, dan sejenisnya. Sebab, dosa syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Swt.. Sebagaimana firman-Nya dalam (QS An-Nisa: 48),

“Sesungguhnya Allah Swt. tidak akan mengampuni dosa syirik mempersekutukan-Nya (dengan sesuatu apa jua), dan akan mengampunkan dosa yang lain dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya (menurut aturan Syariat-Nya). dan siapa yang mempersekutukan Allah Swt. (dengan sesuatu yang lain) maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.”

Kedua, berkebalikan dengan ekonomi kapitalisme yang mewadahi jual beli boneka arwah untuk kepentingan finansial, ekonomi Islam justru melarang segala bentuk muamalah haram, serta menutup rapat-rapat pintu bagi jual beli barang-barang haram, termasuk boneka arwah yang mengandung konsekuensi akidah di dalamnya.

Ketiga, bagi pelaku kemusyrikan, baik penjual maupun pembeli alat-alat yang mengajak masyarakat pada perbuatan syirik, negara akan memberikan sanksi tegas. Sebab, syirik merupakan kemaksiatan yang besar. Adanya sanksi dalam Islam bukan sekadar pemberian hukuman. Lebih dari itu, ada fungsi zawajir (pencegahan) danjawabir(penebus dosa).

Keempat, negara bekerja sama dengan ormas atau kelompok dakwah untuk melakukan pembinaan akidah kepada masyarakat. Harapannya, pembinaan intensif akan mampu membentengi umat dari penyimpangan dan penyesatan akidah, serta mencegah umat berbuat hal yang sia-sia dan berdosa.

Khatimah
Sesungguhnya, jebolnya keran akidah umat hari ini tidak lepas dari tanggung jawab negara. Riayahsistem kapitalisme sekuler tidak sampai mengatur urusan penyaluran naluri dalam bentuk sanksi, hanya berbentuk imbauan untuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama. Padahal, penjagaan akidah merupakan salah satu amanah utama negara. Dengan demikian, jika sistem kapitalisme sekuler sudah terbukti tidak bisa menjaga akidah umat, mengapa tidak mengambil Islam sebagai syariat? Wallahualam.

muslimahnews

[news.beritaislam.org]

0 Response to "Fenomena Boneka Arwah, Fakta di Balik Tuntutan Tren yang Menyesatkan dan Paganisme Modern"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini