Ada 5 Tingkatan Khusyuk dalam Shalat Menurut Ibnu Qayyim, Kamu Ada di Tingkat yang Mana?


Ilustrasi: Google

Berita
islam
- Setiap manusia dalam proses dirinya mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa jalla (bertaqarrub ilallah) sesuai kemampuannya masing-masing. Dikarenakan setiap orang dengan berbagai ujian dalam hidupnya dilalui dengan berbeda. Ada dua orang yang diuji dengan ujian yang sama percis, namun ada kalanya yang satu melewatinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, yang melahirkan ketawakalan. Namun sebaliknya ada yang melaluinya dengan perasaan marah, kecewa, berkeluh kesah pada sesama manusia tanpa ada solusinya. Tentu hasil kualitas dari ujian tersebut tidak sama. Yang satu dengan kekuatan imannya semakin ditinggikan derajatnya, ditambah dimudahkan urusannya (ujiannya) oleh Allah 'Azza wa jalla, yang satu semakin lemah imannya, berkutat dengan persoalannya, bahkan bisa jadi belum selesai ujian yang satu, ujian berikutnya menghampiri kembali.

Seorang muslim yang taat dan kuat imannya akan khusyuk dalam shalat. Yang imannya masih lemah, saat sholat lebih mudah digoda Setan, tidak khusyuk bahkan terburu-buru dalam melakukannya.

Perbedaan ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu wudhu yang sempurna dan dengan yang kurang sempurna akan sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan sholat, tingkat kehadiran hati saat sholat, tingkat kelalaiannya, juga konsentrasi, dan berpalingnya hati dari mengingat Allah ‘azza wajalla saat shalat.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengklasifikasikan manusia dalam beberapa tingkatan terkait tingkat khusyuk dalam shalat. Konsepsi beliau tentang tingkat khusyuk dalam shalat ini dapat dijumpai dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib (hal. 23)

Tingkat pertama, orang yang menzalimi dan menelantarkan diri sendiri. Az-Zalim li nafsih.

Tingkatan ini ditempati orang yang tidak menjaga kesempurnaan wudhu, waktu-waktu shalat, batasan-batasan serta rukun-rukunnya.

Tingkat kedua, orang yang memelihara waktu-waktu shalat, batasan-batasannya, rukun-rukun lahiriahnya, dan wudhunya, hanya saja ia mengesampingkan upaya untuk melawan bisikan jiwa. Sehingga, ia terbawa oleh bisikan-bisikan jiwa dan pikiran-pikiran.

Tingkat ketiga, orang yang menjaga batasan-batasan shalat dan rukun-rukunnya, serta berusaha kuat melawan bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran. Ia sibuk melawan musuhnya agar tidak mencuri shalatnya, maka ia berada dalam shalat dan jihad.

Tingkat keempat, orang yang bila berdiri untuk shalat ia menyempurnakan hak-hak shalat, rukun-rukunnya, serta batasan-batasannya.

Hatinya tenggelam memelihara batasan-batasan dan hak-haknya, supaya ia tidak menyia-nyiakannya sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk menegakkan shalat sebagaimana mestinya, dan selalu berusaha menyempurnakannya.

Hatinya tenggelam dalam urusan shalat dan penghambaannya pada Rabb dalam shalat.

Tingkat kelima, orang yang bila berdiri shalat, ia melakukannya seperti tingkatan keempat. Tapi selain itu, orang ini telah mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Rabb seraya melihat-Nya dengan hatinya, merasa diawasi oleh-Nya, penuh cinta dan mengagungkan-Nya, seolah-olah ia melihat dan memandang-Nya.


Bisikan-bisikan, pengalihan-pengalihan, dan was-was dalam jiwa yang mengganggu itu telah meredup. Penghalang antara ia dan Allah telah terangkat.

Maka jarak antara tingkatan orang ini dan tingkatan lainnya perihal khusyuk dalam shalat lebih jauh dibanding jarak antara langit dan bumi. Dalam shalat ia sibuk bermunajat dengan Rabb, bahagia dengan-Nya. Dalam Alquran, Allah 'azza wa jalla bahkan menegaskan bahwa ciri-ciri orang beriman dan penghuni surga adalah mereka yang melakukan shalat dengan khusyuk dan nikmat. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 1-2: “Qad aflahal-mu’minun. Aladzina hum fi shalatihim khasyi’un,”.

Yang artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Adalah) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,”

Pada ayat 11-12 surat yang sama, Allah berfirman: “Aladzina yaritsunal-firdausa hum fiha khalidun. Walaqad khalaqnal-insana min sulalatin min thiin,”. Yang artinya: “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yakni (mewarisi) surga Firdaus dan mereka kekal di dalamnya,”. Wallahua'lam 


[news.beritaislam.org]

Posting Komentar untuk "Ada 5 Tingkatan Khusyuk dalam Shalat Menurut Ibnu Qayyim, Kamu Ada di Tingkat yang Mana? "

Banner iklan disini