Bagi Raport? Jangan Tambah Depresi Anak

Bagi Raport? Jangan Tambah Depresi Anak

Beritaislam - Oleh Ust. Iwan Januar

Pekan kemarin adalah pekan bagi raport. Sebagai orangtua yang pernah menjadi anak sekolah, momen bagi raport itu menegangkan. Kalau raport bagus iya menyenangkan, tapi bagaimana bila nilai-nilainya amburadul. Apalagi dulu masih ada kebijakan angka di bawah enam atau enam puluh ditulis dengan tinta merah. Sehingga muncul istilah ‘raport kebakaran’ karena si merah berderet. Terbayang wajah kesal orangtua melihat raport anaknya macam begitu.


Tapi bukan saja anak yang raport dengan nilai buruk yang tegang, sebagian anak yang raportnya bagus tapi nilainya menurun, juga tegang. Ada saja orangtua yang marah melihat angka raport anaknya alami penurunan.

Saya percaya ayah bunda pembaca artikel ini pernah alami fun dan ketegangan macam itu saat sekolah. Hari ini, kita sebagai orang tua yang ambil peran itu. Jujur, kita pun ikutan tegang saat pembagian raport atau hasil ujian anak. Namun tidak bijak bila sebagai orang tua kita membuat anak tegang bahkan alami depresi.

Ayahbunda, menurut laporan Pew Research Center, jumlah remaja di AS yang alami depresi cukup banyak. Sebanyak 7-10 remaja usia 13-17 tahun alami kecemasan dan depresi. Sekitar 61 persen dari mereka resah dan tertekan karena tuntutan harus mendapat nilai yang bagus.

Tekanan yang mereka hadapi di sekolah itu kemungkinan terkait dengan tujuan mereka setelah lulus sekolah. Sebanyak 59 persen mengatakan mereka ingin melanjutkan kuliah. Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut studi tahun 2017 yang dimuat di Journal of Psychiatry mengungkap, 6,9 persen mahasiswa di Yogyakarta punya pemikiran bunuh diri. Sementara itu data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut, 140 dari 1000 remaja juga memiliki masalah kesehatan mental.

Ini masalah serius, bukan? Tak ada artinya anak bersekolah di tempat yang elit tapi dalam kondisi tertekan dan stress. Orang tua semestinya jadi sosok yang bisa menenangkan, memotivasi dan memberikan solusi. Bila kondisi depresi pada anak ini berkelanjutan maka akan berdampak pada rendahnya kualitas kebahagiaan mereka saat dewasa dan berumah tangga.

Karenanya, jadilah orang tua yang bisa memberikan kebahagiaan pada anak, bukan memberi tekanan. Orang tua yang inspiratif dan solutif, bukan intimidatif. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah depresi pada anak. Dan semua adalah nasihat klasik yang tetap mujarab untuk membangun kesehatan mental anak-anak kita.

Beri motivasi bukan intimidasi. Anak akan mudah berprestasi bila mengerjakan sesuatu dengan nyaman, bukan dalam tekanan. Maka buatlah anak-anak termotivasi dalam belajar termasuk beribadah agar mereka tidak merasa depresi. Ketimbang mengancam dan mencela, lebih positif orang tua memberikan gambaran ‘kebaikan apa’ yang akan mereka dapatkan bila memiliki giat belajar, hafal al-Qur’an, atau rajin beribadah. Sehingga mereka merasa nyaman dan bersemangat saat bersekolah.

Apresiasi Prestasi Anak. Orang tua boleh punya harapan, tapi anak yang berjuang di lapangan, dan setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Dalam menghafal al-Qur’an, ada anak yang cepat dan kuat menghafal, tapi ada anak yang butuh proses lebih lama dibandingkan kawan-kawannya. Bagaimanapun itu semua adalah anugerah dari Allah, maka apresiasilah prestasi mereka. Cukupkan pujian pada mereka, dan ganti kritikan dengan solusi supaya anak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan

Berhenti Membandingkan Anak Dengan Yang Lain. Jangankan dengan anak orang, hentikan juga membandingkan anak dengan saudara kandung mereka dalam soal prestasi. Sebagai orang tua, Anda pun tak mau kan dibandingkan dengan orang tua lain oleh anak kita? Pahami setiap anak punya keistimewaan masing-masing.

Beri Anak Waktu Istirahat. Tidak sedikit orang tua begitu terobsesi membuat anaknya berprestasi, sampai-sampai memberikan berbagai les tambahan setiap hari. Bahkan di masa libur pun anak-anak masih dimasukkan ke dalam berbagai aktivitas studi seperti camp, dsb. Nyaris anak tak memiliki waktu istirahat yang cukup. Hal ini menjadi beban tambahan bagi anak, karena mental dan otak manusia bagaimana pun juga membutuhkan istirahat.

Syukuri Kesalehan Mereka. Sampaikan pada mereka bahwa prestasi terbaik anak yang membahagiakan orang tua adalah dengan kehadiran anak yang saleh. Anak yang saleh tidak diukur dari indeks prestasi akademik, nilai raport, juga jumlah surat yang mereka hafal. Tapi kesalehan itu tampak dari adab yang baik, keterikatan pada agama Allah, dan giat beribadah. Kemampuan akademik, termasuk hafalan al-Qur’an, adalah tambahan kebaikan bagi mereka. Namun semua bisa menjadi nol nilainya bila anak tidak memiliki adab yang Islami dan semangat perjuangan. Bila anak memahami hal ini, maka mereka akan merasa tenang karena paham nilai sesungguhnya yang membahagiakan kedua orang tua.

[news.beritaislam.org]

0 Response to "Bagi Raport? Jangan Tambah Depresi Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini