Safari Keprihatinan Para Jenderal







Beritaislam - Oleh : Hersubeno Arief

Jumat siang (24/5) sosok bertubuh jangkung mengenakan baju koko dan peci warna hitam berjalan menyusuri gang padat di Jalan Petamburan V, Jakarta Barat.

Di belakangnya, sejumlah orang mengenakan pakaian yang sama mengikutinya. Sampai di sebuah mulut gang sempit dia berbelok.

Di mulut gang, tepatnya di Posyandu RT 10/RW 05 Petamburan bersandar sebuah papan karangan bunga ucapan bela sungkawa atas meninggalnya seorang remaja Rayhan Fajari (16) dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Lelaki bertubuh jangkung itu adalah Letjen TNI ( Purn) Sjafrie Sjamsoeddien mantan Wakil Menteri Pertahanan pada Kabinet Presiden SBY. Berjalan di samping dan belakangnya semuanya mantan petinggi TNI.

Ada Letjen TNI ( Purn) Agus Sutomo mantan Irjen Dephan, pernah menjabat Komandan Paspampres, Danjen Kopassus dan Pangdam Jaya. Mayjen Meris Wiryadi mantan Pangdam Patimura dan ajudan Wapres Jusuf Kalla. Mayjen TNI (Purn) Iwan R Sulanjana mantan Pangdam Siliwangi, Mayjen TNI (Purn) Abikusno mantan Aslog Panglima TNI dan Brigjen TNI (Purn) Mazni Harun mantan Danpussenarhanud TNI AD.

Sjafrie dan rombongan hari itu menemui keluarga Reyhan. Remaja yang baru lulus SMP itu menjadi salahsatu korban tewas akibat kerusuhan 21-22 Mei.

Reyhan bukan pelaku kerusuhan. Dia aktivis remaja masjid yang baru saja selesai mengepel lantai masjid dan bersiap-siap membangunkan sahur warga.

Mendengar riuh rendah di jalan Raya Petamburan yang berjarak sekitar 2.00 meter mereka segera menuju ke sana.

Di depan Markas Brimob Petamburan mereka melihat ada sejumlah massa yang sedang berhadapan dengan sejumlah petugas Brimob.

Ketika asyik nonton sambil ngobrol, sebuah peluru menerjang pelipisnya. “Suaranya berdesing di atas telinga,” ujar salah satu teman Reyhan bernama Rayhan. Malam itu dia bersama Reyhan dan dua orang temannya. Keempatnya adalah remaja masjid.

Reyhan langsung roboh. Dia dievakuasi ke masjid Istiqomah dan kemudian dibawa RSAL Mintohardjo di Jalan Bendungan Hilir. Nyawanya tak tertolong karena tertembus peluru di pelipis kirinya.

Mendengar penjelasan remaja itu, Brigjen Mazni Harun memastikan yang digunakan petugas adalah peluru tajam. ” Kalau peluru hampa dan karet tidak akan berdesing,” ujarnya.

Sjafrie dan rombongan bertemu, mengucapkan bela sungkawa dan memberi bantuan.”Ini urunan dari kami para purnawirawan. Tidak banyak, tapi mohon diterima sebagai bentuk simpati dan dukungan kami,” ujarnya kepada paman kurban.

Reyhan remaja lulusan SMP yang sedang bersiap masuk SMA itu sudah dimakamkan di Purwakarta, Jawa Barat kampung halaman orang tuanya. “Kasus ini harus diusut tuntas. Keadilan harus ditegakkan,” tegas Sjafrie kepada sejumlah media yang meliput peristiwa tersebut.

Sjafrie cukup lama berbincang dengan awak media. Anehnya satu media online mencoba memelintir berita dengan menyebut Reyhan terjatuh karena bertabrakan dengan tema-temannya yang berlarian karena ada kerusuhan. Ada kesan media tersebut ingin mengaburkan fakta bahwa Reyhan tewas terkena tembakan.

Seorang eksekutif produser sebuah stasiun televisi nasional juga mengirim pesan. “ Maaf kemungkinan beritanya tidak akan dimuat,” ujarnya dengan prihatin.

Dari rumah Reyhan, Sjafrie dan rombongan bergeser ke rumah seorang warga yang terluka karena kena tabung gas air mata. Sjafrie juga berjumpa dengan orang tua korban seorang remaja yang terkena tembak dan masih dirawat di RSAL Mintohardjo.

Setelah itu mereka bergerak menuju kawasan Slipi tak jauh dari kantor DPP Partai Golkar. Di salah satu gang yang padat mereka mengunjungi rumah Widianto Rizky Ramadhan (17). Pelajar sebuah SMK 60 Jakarta itu tewas dengan luka tembak di dada.

Dengan menahan air mata, Prihatin W orang tua Rizky menuturkan anaknya lahir di bulan Ramadhan dan kini juga tewas pada bulan Ramadhan.

Sebagaimana dikatakan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan total ada 8 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21-22 Mei.

Dalam peristiwa itu pasukan Brimob banyak dituding sebagai pelaku penembakan.



Pengulangan peristiwa 1998

Kunjungan Sjafrie mengingatkan kita kembali pada tragedi 12 Mei 1998 di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Empat orang mahasiswa tewas tertembak.

Sjafrie saat itu menjadi Pangdam Jaya dengan pangkat Mayjen. Kapolda Metro Jaya dijabat oleh Mayjen Pol Hamami Nata. Menkopolhukam Wiranto saat itu menjabat Menhankam/Panglima ABRI.

Wiranto juga memainkan peran penting dan menjadi penanggungjawab utama keamanan. Perannya persis seperti yang dimainkannya saat ini.

Wiranto saat ini malah terkesan pasang badan sepenuhnya menghadapi para pengunjukrasa dan kelompok oposisi yang mempersoalkan kecurangan Pilpres.

Pada peristiwa 1998, 12 orang anggota Brimob diadili dalam sidang di Mahkamah Militer. Adnan Buyung sebagai pembela menyebut mereka hanya kambing hitam. Namun politisi Gerindra Fadlizon dalam bukunya “Politik Huru-Hara 1998” menyebut dalam persidangan terbukti polisi lah pelaku penembakan.

Kapolri saat itu Jenderal Pol Dibyo Widodo menyebut pasukannya tidak dibekali peluru tajam. Namun di persidangan, masih kata Fadlizon, terbukti peluru yang digunakan berasal dari Steyer senjata organik milik Polri.

Pengakuan Dibyo waktu itu sama dengan pengakuan Kepala Divisi Humas
Mabes Polri Irjen Pol M. Iqbal. Kepada media Selasa (21/5) Iqbal mengatakan “ Jika besok ada penembakan dengan peluru tajam dipastikan bukan berasal dari TNI dan Polri,” ujarnya.

Penjelasan Iqbal ini agak membingungkan. Sebelumnya di medsos beredar video Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan inspeksi pasukan pengamanan pemilu. Dalam dialog tersebut para prajurit memgaku selain dibekali peluru hampa dan karet, juga dibekali peluru tajam.

Sjafrie mendorong kasus ini dibuka dan hukum harus ditegakkan. Sebab dari fakta lapangan diketahui beberapa korban bukanlah pelaku kerusuhan. Reyhan dan Widianto bahkan tidak tahu menahu. Mereka hanya penonton.

Dibukanya kasus ini juga bisa menghilangkan spekulasi dan memberi kepastian hukum, terutama kepada kesatuan Brimob yang disalahkan.

Safari para purnawirawan jenderal mengunjungi keluarga para korban ini merupakan sebuah ironi. Mereka bergerak ketika pemerintah pusat dan kekuatan masyarakat sipil, akademisi, para intelektual dan media abai dengan tewasnya 8 korban.

Hanya pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Gubernur Anies Baswedan yang turun tangan mengungkap data, melayat dan menyantuni korban. Anehnya tindakan Anies justru dikecam oleh juru bicara TKN Irma Suryani Chaniago. Anies dinilai tidak mensupport pemerintah pusat dan polisi.

Dibandingkan dengan peristiwa 1998, reaksi kekuatan masyarakat sipil kali ini sungguh berbeda. Saat itu dipicu Tragedi Trisakti seluruh kekuatan sipil bergerak, dan Soeharto tumbang dari kursi presiden setelah 32 tahun berkuasa.

21 tahun reformasi tampaknya sudah mengubah sikap publik kita. 600 orang petugas KPPS tewas, ditambah 8 orang yang tewas sia-sia bukanlah peristiwa yang luar biasa. Just a number, hanya sebuah angka

Secara statistik jumlah itu memang tidak seberapa. Dari total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 265 juta jiwa, jumlah mereka yang Tewas hanya 0,0000022294339623 persen saja. Tidak signifikan dan tidak ada pengaruhnya. Jadi tak perlu dipersoalkan. end

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates: