Lima Catatan Serius Lemahnya Situng KPU
Beritaislam - Kisruh salah input Situng KPU, sudah tiak lagi bisa dilihat sebagai masalah teknis-kasuistis. Kekacauan ini, sudah menjadi problem sistemik yang mengancam kredibilitas dan _trust_ penyelenggara pemilu. Pasalnya, kekeliruan input bukan hanya terjadi sekali, tapi ratusan kali. Bahkan BPN Prabowo-Sandi telah menemukan sekitar 12 ribu kasus salah input data dalam Situng KPU.
Saya termasuk yang pertama meminta agar dilakukan audit forensik IT KPU sejak September 2018. Tujuannya untuk mendeteksi data DPT amburadul dan sistem yang bisa manipulatif dengan algoritma tertentu. Ada 17,5 juta DPT bermasalah hasil temuan tim IT BPN. Forensik diperlukan agar bisa menjamin keamanan dan mencegah intruder dari luar. Jangan sampai ada yang ditutup-tutupi. Namun sayangnya, permintaan audit forensik tersebut tak dilrespon.
Meski telah ditemukan banyak kekeliruan dan kejanggalan, respon KPU selalu normatif. Respon KPU yang kerap mengatakan faktor human error, tak bisa dimaklumi. Selain tak menyelesaikan masalah, respon tersebut justru menandakan sikap KPU yang kurang bertanggung jawab.
Karena itu, Jumat 3 Mei 2019, sebagai Wakil Ketua DPR RI, saya bersama Saudara Riza Patria- Wakil Ketua Komisi II DPR RI- menggunakan hak pengawasan melakukan sidak ke KPU untuk menyampaikan keresahan publik, sekaligus meminta keterangan dari Pimpinan KPU. Kami diterima lengkap oleh Ketua KPU, Komisioner KPU, serta pejabat Setjen. Setelah dialog dan berdebat, kami melakukan peninjauan langsung ke ruang server dan operation room.
Secara sederhana, dari sidak tersebut saya bisa menyimpulkan, bahwa Situng KPU memang dibuat longgar. Aturan validasinya lemah. Celah terjadinya manipulasi sangat besar. Salah input C1 dalam Situng KPU terjadi begitu masif. KPU berlindung dengan disclaimer yang menyebutkan bahwa apa yang ditampillan bukan hasil resmi.
swa
[news.beritaislam.org]

