Bila Diizinkan, Mer-C Bersedia Autopsi Petugas KPPS yang Meninggal







Beritaislam -  Anggota Presidium Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, Arief Rahman, menanggapi kabar pihaknya akan melakukan autopsi terhadap para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia. Menurut Arief, informasi yang tepat adalah lembaganya itu telah membentuk tim mitigasi bencana pemilu.

Tugas dari tim itu antara lain menelusuri laporan baik dari relawan maupun keluarga dari para petugas KPPS yang mengalami sakit. Apakah benar karena seperti klaim KPU, yaitu sakit, atau sebab yang lain.

"Hari ini kami mendapat laporan, broadcast soal autopsi, sepertinya yang broadcast salah tangkap. Dari tim mitigasi menjadi upaya autopsi," kata Arief saat dihubungi VIVA, Senin, 6 Mei 2019.

Arief menuturkan mitigasi kurang dipahami masyarakat awam. Dari sisi pengucapan terkesan mirip. Namun demikian, dia menyatakan bahwa tim juga terbuka dengan kemungkinan melakukan autopsi asal dua syarat terpenuhi.

"Autopsi itu terhadap korban yang sudah meninggal. Kalau kondisinya sudah dikubur lama, prosesnya cukup panjang, memerlukan izin keluarga, dan atas permintaan kepolisian, baru pihak forensik, rumah sakit bisa melakukan autopsi," katanya.

Arief mengakui ada upaya ke arah sana jika dua kondisi itu terpenuhi. Tapi, untuk saat ini, tim Mer-C baru sebatas mengunjungi rumah sakit maupun di rumah untuk memeriksa mereka yang sakit.

"Apakah betul hipotesi KPU, petugas ini mengalmai sakit, sampai meninggal akibat kelelahan," ujarnya.

Dengan demikian, Arief menambahkan kabar soal autopsi bukan tidak benar namun belum dilakukan karena membutuhkan syarat-syarat tertentu. Dia menegaskan bila mendapatkan izin, mereka bersedia mengerjakannya.

Bekerja Independen

Arief mengatakan Mer-C adalah lembaga swadaya masyarakat yang tidak terikat kepentingan politik tertentu atau independen. Menurutnya, langkah membentuk tim mitigasi dan sikap bersedia melakukan autopsi itu lahir dari keprihatinan atas jatuhnya korban yang sudah di luar konteks normal.

"Kemudian yang dijadikan alibi, pihak KPU beralasan sebabnya adalah kelelahan. Kalau hanya kelelahan saja, mengundang pertanyaan besar," kata Arief lagi.

Atas situasi itu, sebagai lembaga yang sudah dikenal publik, banyak turun di masyarakat Mer-C lantas terpanggil untuk bergerak. Mereka menilai kondisi ini merupakan bagian dari bencana.

"Korban yang meninggal sangat besar," katanya.

Lebih jauh, Arief mengatakan instansinya terbuka bila ada pihak 01 dan 02 yang turut terlibat di lapangan. Namun, dia mengakui jika tidak membutuhkan izin dari KPU untuk melakukan tindakan tersebut (memeriksa mereka yang sakit).

"Cukup dari keluarga, kecuali autopsi harus mendapat izin dari keluarga dan atas permintaan kepolisian," katanya.

Arief mengungkapkan saat ini, tim sudah memeriksa para korban yang sakit di Bogor, Banten, Jakarta, dan wilayah lain di Jawa Barat. Selanjutnya, mereka akan bergerak ke Jawa Tengah, Yogya.

Untuk apa hasil pemeriksaan, masih mereka simpan. Dalam beberapa hari, tidak sampai seminggu, atau sebelum 22 Mei, mereka akan membuat kesimpulan dan menyampaikannya ke masyarakat.

Seperti diketahui, petugas KPPS yang meninggal usai melaksanakan tugas dalam Pemilu 2019 sudah banyak yang meninggal dunia. Jumlahnya bahkan sudah mencapai lebih dari 400 orang. Sedangkan, mereka yang sakit berjumlah ribuan. Data itu belum termasuk dari mereka yang berasal dari kepolisian dan juga intitusi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).[viva]



[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: