Takut pada Allah Tak Sekedar di Lisan
Oleh : Kamila Amiluddin (Guru dan Pemerhati Anak, Member Akademi Menulis Kreatif)
Seorang pemimpin adalah contoh bagi rakyatnya, yang amanah dalam setiap kepemimpinannya. Pemimpin dalam setiap ucapannya dianggap benar bagi rakyatnya. Lalu bagaimana ketika seorang pemimpin tidak mampu melaksanakan apa yang ia ucapkan?
Riuh debat Capres pada hari minggu kemarin banyak mengundang komentar dari para netizen, salah satunya ketika Jokowi mengatakan bahwa tidak ada yang beliau takuti kecuali Allah SWT. dikutip dari SINARHARAPAN.co.
Ucapan tersebut sontak banyak menuai komentar sebab seperti yang kita ketahui selama dalam kepemimpinan beliau banyak sekali terjadi kebijakan-kebijakan yang justru membuat umat Islam merasa kecewa.
Bagaimana bisa mengaku takut kepada Allah sementara banyak janji yang tak ditepati, berkata dusta, khianati amanah, mendukung penista agama, menolak penerapan syariahNya, bahkan memusuhi khilafah ajaran Islam dan lain-lain yang jauh dari kata sesuai dengan yang beliau ucapkan.
Takut kepada Allah itu harus dan wajib dibuktikan dengan tidak khianat, adil terhadap kesejahteraan rakyatnya. Meriayah keselamatan negara patuh terhadap segala aturan yang ditetapkan sang khaliq. takut ketika melanggar hukum syara’ terlebih menentang ajaran Islam. Sejatinya menjadi pemimpin adalah amanah yang berat. Kita bisa mencontoh dari kisah seorang pemimpin Umar Bin Abdul Aziz ketika diangkat menjadi seorang khalifah.
Saat nama Umar disebut untuk menggantikan pemimpin sebelumnya justru ekspresi kaget yang beliau tunjukkan bahkan sampai menangis dikarenakan menjadi pemimpin bukanlah atas permintaannya namun para sahabat dan rakyatlah yang memintanya, namun perkara ini sangat menjadi beban baginya apabila ia tidak amanah dalam kepemimpinannya, takut atas pertanggung jawabannya kepada Allah pada hari kiamat kelak tak mampu dipikulnya.
Pidato Umar saat dilantik menjalankan amanahnya “Aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosanya dihadapan Allah”.
Takut kepada Allah tidak hanya sekedar ucapan tetapi harus ada kesesuaian dengan tindakan. Kriminalisasi khilafah sebagai ajaran Islam salah satu bukti tidak takut kepada Allah. Padahal telah jelas khilafah yang didalamnya syariat justru membawa kemaslahatan umat, merupakan perintah Allah yang mutlak. Takut seperti apa jika perintah Allah saja dipermainkan?
Seharusnya sebagai pemimpin yang benar-benar takut kepada Allah justru wajib melaksanakan sistem khilafah yakni yang mengatur segala urusan kehidupan manusia. Mendukung diterapkannya hukum-hukum Islam yang justru terbukti mampu memelihara dan merawat kerukunan umat manusia hampir selama 14 abad.
Dan pemimpin yang taatpun contohnya seperti Umar bin Khattab, jangankan tol berbayar, ada yang menggusur rumah-rumah penduduk non muslim saja beliau marah, rakyatnya ada yang kelaparan beliau merasa berdosa besar bahkan memikul sendiri makanan yang akan ia berikan kepada fakir miskin karena ketakutannya terhadap hisabnya kelak.
Sudah sewajbnya setiap manusia takut kepada Allah, tunduk kepadanya namun rassnya kurang baik saja jika hanya dijadikan lips service untuk meraih suara.Maka, siap-siaplah menunggu perhitungan dari Allah SWT. Pembubaran ormas Islam juga sebagai bukti ketidak adilan, ini bukan makna takut kepada Allah.
Ciri-ciri mukmin yang takut kepada Allah yaitu Pertama, lisannya tidak pernah digunakan untuk berkata bohong atau dusta. Lisannya fokus dzikir, mambaca ayat-ayat Allah, diskusi ilmu. Kedua, tidak masuk kedalam perutnya kecuali makanan yang halal dan baik, termasuk dari cara bagaimana ia memperoleh makanan tersebut artinya tidak hasil korupsi atau memakan hak rakyatnya. Ketiga, pandangannya tidak digunakan untuk sesuatu yang haram pandangannya digunakan untuk melihat kebaikan-kebaikan orang lain jika ia seorang calon pemimpin maka ia mampu bersaing secara ahsan. Dan terakhir taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan, mengakui takut kepada Allah bukan niat untuk riya’ agar dilihat orang lain. Wallahu’alam
[news.beritaislam.org]

