Ada Yang "PANAS DINGIN" Mau Debat Capres






Ada Yang "PANAS DINGIN" Mau Debat Capres

ADA YANG 'PANAS DINGIN' MAU DEBAT CAPRES


Oleh: Nasrudin Joha 

"Soal mundur, tidak mundur panelis itu, kita akan serahkan kepada KPU mana yang terbaik. Yang penting itu bagaimana panelis itu bersikap jujur, objektif, tidak menyudutkan, dan tidak juga membuat kesulitan para capres-cawapres," [Ma'ruf Amien, 5/1]

Hihihi, huba, huba, huba, bahu huba, huba, huba, bahu, huba, huba, huba, bahu, Marsupilami pasti berteriak, berlari girang dengan ekor ajaibnya, mendengar kelakuan politisi di negeri ini. Baru saja kebijakan 'sumir' KPU ditelurkan. Dari batal penyampaian visi misi hingga memberi contekan kepada paslon. Ternyata, semua ada benang merahnya.


Ada yang merasa tersudut, kesulitan, dan menuding adanya ketidakjujuran dan ketidakobjektifan. Mungkin ini juga, sebab beberapa panelis tertentu dicoret. Mungkin panelisnya nanti akan jadi 'dosen killer', sehingga sidang capres menjadi tegang, capresnya bisa kencing berdiri saat dilumat pertanyaan panelis.

Yang dikhawatirkan dari paslon terkait debat itu bukan efek positif tepi efek negatifnya. Posisi debat capres mendongkrak elektabilitas itu paling tinggi cuma bisa meraih 2 % pemilih mengambang. Tapi efek negatif debat, bisa menggulung 20 % suara pemilih yang ragu, menjadi yakin untuk tidak memilih pasangan tertentu. Apalagi ini era sosmed ? Sayatan sosmed itu pedih jenderal !

Coba bayangkan, jika ada yang debat keselip lidah, atau mengeluarkan bahasa dengan kata-kata yang belum terindeks pada kamus bahasa karya JS BADUDU. Misalnya saja, sepanjang debat ada calon yang menjelaskan jawaban kepada panelis dengan ungkapan : Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Dan diakhir ditegaskan dengan bahasa BUKAN URUSAN SAYA.

Masih saya ajak Anda, membayangkan lagi. Semua selip lidah itu, diabadikan kamera, di edit dengan daya kreasi netizen jutaan rakyat yang menontonnya, editan itu disertai capture, video, atau statement tambahan, yang menyerang calon. Kemudian viral, ada potongan video pendek viral yang di Instagram, agak panjang viral di YouTube, ada yang menyadurnya menjadi tulisan unik (seperti yang Anda baca ini) kemudian beredar luas di WA, Facebook, dari saling japri hingga GWA - GWA, bisa dibayangkan betapa daya rusak terhadap elektabilitas capres bisa melebihi bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki.

Bisa diprediksi, upaya dan ikhtiar mahal berbulan-bulan saat persiapan kampanye bisa hancur luluh karena kesalahan debat capres. Apalagi, yang menjadi lawan capres bukan hanya TKN paslon lawan, tapi seluruh rakyat akan ikut mengabarkan pilihan politik dan dukungannya.

Saya kira ini yang masih menghantui benak pasangan Joma'. Perlu les privat berulang kali untuk 'Cheks Sound". Ada beban sejarah, dimana ujaran kampanye tahun 2014 pasti menjadi momok tersendiri karena banyak yang belum direalisasikan. Baliho '66 janji Jokowi yang diingkari' akan membuat deg-degan dan gemetaran.

Terlebi lagi tagar :
 #KhilafahAjaranIslam,
#HaramPilihPemimpinDzalim,
#HaramPilihPemimpinAntiIslam,
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji,
#HaramPilihPemimpinAntek,
#JanganPilihPemimpinGagal,
#JanganPilihPemimpinBubarinOrmas
#JanganPilihPemimpinProPenista
#JanganPilihPemimpinProPembakarBenderaTauhid
#JanganPilihPemimpinKriminalisasiAjarandanSimbolIslam.

Tentu, semua ini adalah kuburan masal yang akan menenggelamkan capres pencitraan. Dalam debat, kemampuan capres tidak ditutupi. Terlihat, mana capres berbobot mana capres amatiran. Kasihan sekali, betapa menakutkan panggung debat bagi Presiden yang represif dan anti Islam. [].

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: