Kintsugi (金継ぎ), "Kita Semua Adalah Pengerajin Kintsugi Yang Berusaha Menyatukan Pribadi dan Negeri"






Kintsugi (金継ぎ)

Kintsugi (金継ぎ)

Oleh Yudha Pedyanto

Pekan kemarin saya baru saja melatih dua engineer coding menggunakan bahasa pemrograman paling seksi di dunia: Python. Mereka menggunakannya untuk mengendalikan satelit yang berjarak 36,000 km dari permukaan bumi. Saya memang tidak seberuntung mereka bisa mainan satelit pakai Python. Tapi setidaknya mainan saya tidak kalah menantang; machine learning dan artificial intelligence pakai Python.


Dan pagi ini saya baru saja coding jaringan syaraf tiruan (neural networks). Berbeda dengan kode program biasa, kode jaringan syaraf tiruan baru bisa berfungsi setelah di-training terlebih dahulu. Ia harus diiterasi dan dihajar ribuan kali agar bisa berfungsi. Kalo Anda memiliki HP yang bisa unlock hanya dengan mengenali wajah pemiliknya, itu karena HP tersebut ditanamkan algoritma deep learning pakai jaringan syaraf tiruan tadi.

Tapi tujuan saya bukan mengajari Anda bagaimana menulis kode jaringan syaraf tiruan atau kecerdasan buatan. Tujuan saya memberitahu Anda; kapan pun dan dimana pun Anda melihat sesuatu yang luar biasa, yakinlah pasti ia didahului dengan latihan dan pengorbanan yang juga luar biasa. Kalo dalam bahasa digital ia disebut training iteration, dalam bahasa spiritual ia disebut riyadhah.

There is a crack in everything, that's how the light gets in.
~Leonard Cohen

Seperti kode jaringan syaraf tiruan, sering kali manusia harus terpapar tekanan dan masalah ribuan kali agar bisa berfungsi dengan “benar”. Hal ini tentu tidak mengejutkan, karena cara kerja jaringan syaraf tiruan yang ada di microchip tadi, sebenarnya meniru cara kerja jaringan syaraf betulan yang ada di kepala kita. Dan sekarang kita berusaha meniru (mengambil hikmah) cara kerja syaraf tiruan, untuk lebih memahami cara kerja syaraf betulan. Terkadang manusia memang aneh.

Let’s cut the crap. Bagaimana Isaac Newton menemukan teori gravitasi? Sejak lahir ia telah dilatih dan dihajar dengan kondisi prematur yang membuat lemah fisiknya, lalu dibesarkan tanpa kasih sayang oleh ayah tirinya, akhirnya buku dan matematika pun jadi tempat pelariannya. Kemudian Isaac Newton muda menolak jadi petani, tapi tak punya uang cukup untuk lanjut ke perguruan tinggi, akhirnya ia jadi penjaga loket pakaian di tempat mandi. Lalu tanpa henti ia tekuni riset dan observasi, sampai akhirnya ia menemukan teori gravitasi.

Lalu bagaimana Albert Einstein menemukan teori relativitas? Sejak lahir ia juga telah dilatih dan dihajar dengan kondisi aneh kepala berukuran lebih besar dari biasa. Lalu saat beranjak anak-anak tak ada tanda-tanda bisa bicara. Ketika bisa bicara pun hanya mengulang-ulang kata yang sama. Ketika sekolah dikenal sebagai siswa dengan kecerdasan rata-rata. Ia pun pernah tak lulus dan mengulang ujian fisika. Ketika dewasa sempat terlunta-lunta mencari pekerjaan tuk nafkahi keluarga, sembari malam hari tetap tekuni fisika. Sampai akhirnya ia menemukan teori relativitas yang melegenda.

Demikian pula dengan Jan Koum, ia terlahir dari keluarga miskin di Ukraina. Karena saat itu rezim komunis berkuasa, keluarganya sampai tak bisa bertelefon tuk sekedar saling sapa. Berharap nasib berbeda, Jan Koum dan ibunya pun bermigrasi ke Amerika. Keadaanya ternyata tak lebih mudah. Ibunya divonis kanker parah dan akhirnya meninggal dunia. Jan Koum pun tak sanggup menelpon ayahnya, karena biaya interlokal saat itu mahal harganya. Sedih campur geram, ia pun bertekad membangun aplikasi komunikasi yang cepat dan murah: WhatsApp namanya. Yang akhirnya dibeli Facebook hampir 300 triliun rupiah nilainya.

Thanks for the tragedy. I need it for my art.
~Kurt Cobain

Banyak yang bertanya, bahkan cenderung protes kepada Allah SWT mengapa Ia menciptakan rasa sakit (physically, especially emotionally)? Rasa sakit yang kita rasakan ketika terpapar masalah adalah sebuah keniscayaan. Karena ia sebenarnya adalah pesan yang dikirim oleh syaraf (sungguhan bukan tiruan) ke otak. Ketika pesan tadi sampai ke otak, kita merasakan rasa sakit tadi, kemudian kita melakukan tindakan agar rasa sakit tadi hilang atau berkurang. Tak penting apakah caranya dengan menemukan teori gravitasi, teori relativitas, WhatsApp atau sekedar kembali bersemangat jalani hidup serta menebarkan manfaat bagi sesama.

Seandainya Allah SWT mencabut rasa sakit tadi, maka manusia bisa tersayat dan kehilangan seluruh darahnya sampai meninggal, tanpa merasakan perih sedikit pun. Atau bakteri dan virus secara masif menyerang tubuhnya dari dalam sampai meninggal, tanpa merasakan demam sedikit pun. Ini bukan berandai-andai. Ada sebagian kecil manusia yang terlahir membawa kelainan genetik tak mampu merasakan sakit tadi. Kondisi ini disebut congenital analgesia. Tak seperti Anda, mereka tidak bisa hidup normal; harus ekstra hati-hati dengan dunia luar, serta harus sering medical check-up. Karena sistem alarm rasa sakit mereka tidak bekerja.

Kami pun para programer menciptakan rasa sakit sintetik agar program kecerdasan buatan kami bisa bekerja. Kalo Allah SWT menciptakan rasa sakit alami agar makhluk hidup bisa merespon dengan cepat. Kami para data scientist menciptakan rasa sakit sintetik berupa loss function agar jaringan syaraf tiruan bisa  merespon dengan cepat. Rasa sakit sintetik ini bernama chain rule backpropagation function yang dirumuskan menggunakan persamaan matematika kalkulus diferensial yang percayalah Anda tidak ingin saya menjelaskannya di sini. Pertama saya cuma ingin bilang kami-kami ini bisanya cuma bisa copas dari konsep-Nya Allah SWT. Dan kedua rasa sakit itu diperlukan, baik di dunia digital atau pun dunia manusia.

For a star to be born, there is one thing that must happen: a gaseous nebula must collapse. So collapse. Crumble. This is not your destruction. This is your birth.
~Zoe Skylar

Pada suatu hari di akhir Abad ke-15 Masehi, betapa kagetnya Ashikaga Yoshimasa, seorang shōgun ke-8 Jepang, ketika ia menerima mangkok tembikar antik yang dipesannya jauh-jauh dari Cina pecah berkeping-keping. Karena keantikan mangkok tersebut tak tergantikan, ia lantas mengembalikannya ke Cina dan meminta ganti yang persis sama. Tapi para pengrajin tembikar Cina tak menemukan mangkok antik yang persis serupa.

Tak ada cara lain dan kehabisan akal, akhirnya para pengrajin tembikar Cina menambal dan menyambung pecahan mangkok keramik tadi dengan besi. Ashikaga Yoshimasa pun kecewa, lalu memerintahkan seniman terbaik di kerajaannya untuk memperbaikinya. Akhirnya mangkok antik tadi ditambal dan disatukan dengan emas. Lahirlah Kintsugi (金継ぎ), sebuah disiplin seni memperbaiki tembikar antik dengan logam mulia seperti emas, perak atau platinum. Seni Kintsugi ini melambangkan sesuatu yang rusak dan diperbaiki, jauh lebih indah dan bernilai tinggi ketimbang aslinya. Bahkan semakin banyak serpihan tembikarnya, semakin banyak sambungan emasnya, semakin terpancar kilauan indahnya.

Sebenarnya manusia tidak jauh berbeda dengan tembikar atau gerabah antik tadi. Tidak hanya tembikar dan manusia sama-sama terbuat dari tanah, tapi keduanya sama-sama jauh lebih indah dan bermanfaat ketika berhasil menyatukan kembali yang sebelumnya hancur berkeping-keping. Beberapa dari mereka mampu menghasilkan mahakarya teori gravitasi, teori relativitas atau WhatsApp. Beberapa yang lain menghasilkan mahakarya yang lebih sederhana; jadi manusia yang lebih matang dan dewasa, lebih dekat dan taat kepada Allah SWT, serta senantiasa berbagi manfaat kecil bagi sesama.

Tidak hanya serpihan-serpihan pribadi yang harus disatukan, tapi juga serpihan-serpihan negeri Islam. Bukankah Rasulullah SAW di ujung nafasnya, hanya kita yang dipikirkannya: umatku, umatku, umatku. Kalau kita ingin berjumpa dan menyaksikan senyuman Baginda SAW kelak di sana, maka teladanilah beliau. Satukan serpihan negeri-negeri Islam yang tercerai-berai akibat nasionalisme dan sekulerisme dengan “logam mulia” akidah Islamiyah, ukhuwah Islamiyah dan khilafah Islamiyah. Rasa sakit akibat tercerai-berainya umat yang kita rasakan sekarang insya Allah menjadi riyadhah, agar kelak kita menjadi umat yang welas asih, sekaligus tegas berwibawa menjaga kemuliaan diri dan agamanya.

Terakhir, kita mungkin bukan programmer kecerdasan buatan, bukan pula pengendali satelit, tapi kita semua adalah pengrajin Kintsugi yang senantiasa berusaha tak kenal lelah menyatukan pribadi-pribadi dan negeri-negeri Islam yang berserakan dengan syariah-Nya yang kaffah. Jangan pernah putus asa meski semakin banyak serpihannya yang berserak, karena kelak setelah disatukan insya Allah semakin tampak kilauan ajaran-Nya yang terpancar sempurna.



Jogjakarta, 15 Oktober 2018

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kintsugi (金継ぎ), "Kita Semua Adalah Pengerajin Kintsugi Yang Berusaha Menyatukan Pribadi dan Negeri""

Post a Comment