Dari JK, Mahfud MD Hingga Din Syamsuddin Tolak Jadi Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf, Ada Apa ?






Dari JK, Mahfud MD Hingga Din Syamsuddin Tolak Jadi Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf, Ada Apa ?

Beritaislam - Berbeda dengan pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang mudah dalam menentukan ketua ketua tim pemenangan Purnawirawan Jenderal Djoko Santoso. Pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin ternyata harus berjibaku mengalami penolakan demi penolakan hanya untuk mencari ketua tim sukses mereka.

Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (Jokowi-Ma’ruf Amin) agaknya benar-benar kesulitan untuk mencari sosok posisi Ketua Tim Pemenangan.


Penolakan pertama datang dari Jusuf Kalla yang semula digadang-gadang bakal menjadi ketua tim pemenangan untuk Koalisi Indonesia Kerja. Tapi nyatanya beliau tidak bersedia menempati posisi tersebut karena ingin fokus mengurus pemerintahan dan ingin menjadi pengganti bagi Jokowi saat cuti kampanye.

Begitu juga dengan Mahfud MD. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut secara tegas tidak bisa mengisi jabatan Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin karena dia lebih memilih untuk tetap menjabat sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Nah, belakangan, daftar tokoh yang menolak untuk menjadi Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf ternyata bertambah lagi. Kali ini adalah Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah.

Tokoh yang kini masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia ini mengaku pernah ditawari menjadi ketua tim kampanye nasional pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Memang ada yang pernah menghubungi saya pak Teten Masduki (Koordinator Staf Khusus Presiden dan bu Ruhaini (Staf Khusus Presiden Siti Ruhaini Dzuhayatin), katanya membawa pesan presiden ingin dijadikan Ketua Timses Nasional,” tutur Din di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (29/8).

Namun, saya belum percaya kalau pak Jokowi dan pak Ma’ruf Amin sendiri menyampaikan kepada saya, makanya saya tak jawab waktu itu,” sambung Din.

Namun demikian, Din mengaku tidak akan menerima tawaran tersebut lantaran tidak ingin terlibat dalam politik kekuasaan.

Saya jelas tidak bersedia karena saya mantan Ketum Muhammadiyah, sekarang masih mempunyai jabatan sebagai ketua ranting. Saya harus menegakkan organisasi Muhammadiyah tidak terlibat politik kekuasaan,” ujar Din.

“Saya tak mungkin menjadi atau masuk sebagai apapun, sebagai tim sukses pasangan manapun,” lanjut Din.

Selain itu, Din merasa berada dalam posisi lintas agama dan suku, sehingga perlu menjaga keharmonisan serta keseimbangan.

“Saya mempunyai gerakan lintas agama suku karena itu saya harus menjaga juga keseimbangan antara kawan-kawan yang berada di organisasi saya,” kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban tersebut. (mjk/kmp/ram/yessmuslim)

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: