Pemikiran Liberal Sekuler Melahirkan Generasi Kotor, Segera Tinggalkan!


Beritaislam.org - Oleh AM. Ruslan

Mungkin terlalu naif kalau enggan berkata pengkhianat jika ada yang berkata bahwa Islam Nusantara berbeda dengan Islam Arab. Seakan kalimat ini menunjukan bahwa Islam di Nusantara ini ada kemudian tumbuh dan berkembang sendiri tanpa ada dakwah atau kontribusi dari tanah asalnya Arab. Seakan Islam Nusantara memiliki syariat sendiri yang berbeda dengan Islam di negeri muslim lainnya terutama di negeri asalnya Arab. Seakan Islam Nusantara itu memiliki kiblat, alquran dan Rasul berbeda dengan Islam yang dianut oleh seluruh negeri kaum muslimin di dunia ini.

Lebih jauh lagi tentang Islam arab yang dikatakan persis sama dengan penjajah. Islam Nusantara katanya adalah Islam sejati yang bisa melebur dengan adat istiadat masyarakat lokal tanpa perbudakan. Ini sebuah fitnah keji dan sebuah tuduhan yang mengada-ngada.

Bagaimana mungkin Islam yang memiliki misi sebagai Rahmatan lil Alamin disamakan dengan penjajah atau ideologi kapitalis sekuler yang selalu menjarah sumber daya alam negeri-negeri muslim? Bagaimana mungkin Islam yang sudah tumbuh ribuan tahun lalu kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan membawa misi pembebasan manusia dicap sebagai penjajah? Bagaimana mungkin Islam dengan ketinggian peradabannya yang pernah menaungi dunia melalui cahaya Islamnya menjadi negeri yang tak beradab menjadi beradab dikatakan penjajah? Tidakkah mereka bertanya pada diri mereka dari mana negeri ini mendapat cahaya Islam? Bahasa apa yang mereka gunakan dalam sholatnya? Kitab ulama mana yang mereka kaji di pesantren mereka? Dan syahadat apa yang mereka ucapkan untuk memastikan dirinya beriman? Atau jangan-jangan mereka... ah... sudahlah... Mungkin mereka lupa dari rahim siapa mereka dilahirkan.

Sungguh miris pemikiran yang telah menggrogoti diri mereka. Pemikiran yang membuat imajinasi manusia melayang bebas tanpa batas, agama pun ditendang keluar agar tak mengganggu. Pemikiran ini lahir di tengah kaum teokrasi yang banyak melakukan pengekangan pada para cendekia, menyembunyikan kebenaran dan menindas rakyat. Kompromi pemikiran pun terjadi antara para elit yang berseteru. Agama di simpan di pojok rumah ibadah, sementara kehidupan bernegara diatur oleh cendekia/politisi sendiri. Semua kebijakan politik tidak boleh diintervensi oleh kaum agamawan (gereja). Pemisahan antara agama dan kehidupan ini kemudian disebut sekulerisme.

Sekulerisme dengan landasan kebebasan berpikir kemudian hari mulai dijajakan ke dalam negara Islam (Khilafah) yang sebenarnya tidak punya masalah dalam mengatur kehidupan. Sebab Islam sudah cukup bagi muslim sebagai perisai. Namun, qodurullah telah meniscayakan bahwa kebenaran dan kebatilan selalu bertarung memperebutkan jiwa manusia. Manusia yang dihinggapi rasa takut mati dan cinta dunia berlebihan akan menerima pemikiran sekuler ini sebagai pemikiran yang baik untuk digunakan sebagai kerangka berpikir. Pun sebaliknya, manusia yang bertaqwa hanya mencukupkan dirinya dengan Islam.

Namun lambat tapi pasti, usaha kaum liberalis sekuler berhasil mencengkoki pemikirannya pada generasi muslim sampai berhasil menumbangkan benteng kokoh milik umat islam yakni Khilafah di Turky, 3 Maret 1924. Tidak berhenti di situ, mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin dengan bendera nasionalis yang rendah. Sampai ada di antara kaum muslimin berkata "Aku dan kalian". Mereka berhasil membuat tembok nasionalis sebagai pemisah saudara yang dulu saling menyayangi. Kaum Muslimin kini saling membangga-banggakan diri mereka sendiri dan menjelekan saudaranya yang lain. Tidak hanya itu, generasi kaum muslimin sekarang telah berani menghina agama mereka sendiri dan membuangnya jauh dari kehidupan mereka. Padahal Islam adalah petunjuk hidup yang membawa rahmatan bagi semesta alam.

Fenomena yang baru saja terjadi di penghujung bulan suci Ramadhan, yakni seorang muslim dengan jabatan tinggi negara dan petinggi salah satu ormas islam terbesar nusantara yang berkunjung ke negara penjajah, berceramah dan bermesraan dengan para penjajah. Telah mempertontonkan kebodohan dan kemunafikannya secara terang-terangan tanpa tanpa rasa malu. Merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kebejatan dan rusaknya pemikiran liberal sekuler yang terbungkus dalam sebuah sistem Demokrasi.

Menjual harga diri, menjual agama, menjual saudara-saudaranya bahkan fitnah keji keluar dari mulut kotor demi sebuah sanjungan bernama TOLERANSI DAN MODERAT. Apakah pemikiran seperti yang mau dipertahankan? Yang menjadi cita-cita bangsa besar ini? Tentu tidak bukan?

Saya yakin bangsa yang memiliki Pancasila tidak menginginkan hal yang demikian. Karena Pancasila mengajarkan nilai kemanusiaan dan keadaban. Apalagi Islam masih ada di hati bangsa ini. Masyarakat yang memerdekan bangsa ini dengan kalimat takbir yang terlahir dari rahim Islam. Maka, sungguh tidak elok kalau enggan berkata mengkhianati para pendahulu kemerdekaan jika tidak menjadikan Islam sebagai ruh memperbaiki bangsa dan negara beserta sumber daya manusianya yang ada, apalagi sampai mengkotak-kotakan Islam hanya karena secuil kehormatan yang najis.

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini