Teriakan 'Dadah Papa' Iringi Proses Pemindahan Setya Novanto ke RSCM






Teriakan 'Dadah Papa' Iringi Proses Pemindahan Setya Novanto ke RSCM
Ketua DPR Setya Novanto dibawa keluar dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di RSCM, Jakarta, Jumat (17/11/2017). Setya Novanto dibawa ke RSCM untuk tindakan medis lebih lanjut pasca kecelakaan yang dialami dirinya pada Kamis (16/11/2017) malam. WARTA KOTA/HO (WARTA KOTA/HO)

Beritaislam.org - Tiga mobil Toyota Avanza hitam yang ditumpangi penyidik KPK tiba di RS Medika Permata Hijau pada Jumat (17/11/2017) pukul 11.00 WIB. Jumlah total penumpangnya tidak dapat dipastikan, namun sebuah mobil di antaranya berhenti di jalan seberang lobi rumah sakit.
Seorang penyidik KPK berpakaian batik dengan menggendong tas ransel hitam keluar dari mobil tersebut.

Penyidik tersebut kemudian berjalan masuk lewat pintu utama rumah sakit. Puluhan wartawan yang tengah berkumpul di depan lobi rumah sakit kemudian mengejar dan mengerumuninya. Penyidik tersebut kemudian naik ke lantai tiga rumah sakit tempat Novanto dirawat dengan menggunakan lift.

Ia bergeming meski dikerumuni wartawan yang menanyainya di depan pintu lift rumah sakit. Beberapa penyidik lainnya naik ke lantai tiga lewat tangga jalur evakuasi yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat penyidik tersebut. Setelah berada di lantai tiga beberapa penyidik tidak langsung masuk ke ruangan 322-328.

Mereka terdengar tengah berdiskusi dengan suara yang riuh rendah di depan tangga jalur evakuasi yang berjarak sekitar 50 meter dari ruang perawatan Novanto.Di depan ruangan tempat Novanto dirawat, tampak seorang anggota Brimob bersenjata laras panjang berjaga bersama beberapa pria lainnya.

Meski Kamis malam pihak keamanan rumah sakit masih membolehkan wartawan untuk naik ke lantai tiga ruang VIP 322-328 tempat Novanto dirawat, namun saat itu wartawan tidak diperbolehkan naik ke lantai tersebut. "Kita kan sudah sepakat tadi, cuma boleh sampai lobi," kata seorang keamanan kepada tiga wartawan di depan ruang fisioterapi yang sudah telanjur naik ke lantai tiga.

"Sampai sini boleh ya Pak, ambil foto saja," kata seorang wartawati. Keamanan pun memberikan waktu beberapa menit kepada wartawati tersebut untuk mengambil foto di depan ruang fisioterapi dari jarak sekitar 30 meter dari kamar rawat Novanto. Setelah menyelesaikan urusannya, ketiga wartawan tersebut kembali turun lewat tangga jalur evakuasi tempat mereka datang.

Setelah itu tampak dokter dari RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo masuk ke dalam ruangan perawatan Novanto lewat tangga utama yang berada lebih di dekat dengan ruang perawatan Novanto.
Seorang penyidik yang tadinya berada di depan ruangan berlari kecil sambil mengajak penyidik lain yang masih berdiskusi di depan tangga jalur evakuasi.

"Kita harus di sana, kita harus di sana," kata salah seorang penyidik sambil berlari ke arah penyidik lain yang tengah berdiskusi. Kemudian rombongan penyidik tersebut berjalan ke arah ruang perawatan Novanto melalui lorong yang menghubungkan tempat tangga jalur evakuasi dan kamar Novanto. 

Beberapa di antaranya masuk, sementara yang lainnya menunggu di depan pintu ruangan. Tidak lama, Dokter Bimanesh kemudian keluar dari ruangan Novanto dan berjalan di lorong ke arah tangga jalur evakuasi. Dokter tersebut menyobek beberapa lembar kertas di depan ruangan fisioterapi. Dokter tersebut terus berjalan pelan ke arah ruangan poliklinik sambil menunduk.

Seorang penyidik terlihat menelepon seseorang sambil berjalan ke lorong depan ruang fisioterapi. "Tolong ambil printer yang di mobil," kata penyidik yang berkemeja batik dan membawa ransel hitam. Beberapa orang kemudian tampak keluar dari ruang Komite Medik yang berseberangan tak jauh dari ruang perawatan Novanto.

Terdengar suara cukup keras dari mesin printer yang tengah mencetak dari ruangan tersebut. Suara tersebut seperti suara mesin pencetak rekening listrik di kantor pos. Di depan ruang fisioterapi terlihat dua lelaki berpakaian sipil tengah mendiskusikan sesuatu dengan volume suara yang hampir berbisik.

Sesekali nada suara dalam percakapan kedua lelaki itu terdengar naik hingga terdengar di lorong depan ruangan fisioterapi. "Kalau abang jadi dia gimana?" kata seorang lelaki dengan nada yang agak tinggi. Kemudian suara percakapan keduanya terdengar menjadi pelan dan semakin pelan sebelum kedua lelaki itu hilang dari pantauan.

Setelah situasi lebih tenang, sebuah ranjang rumah sakit dibawa masuk ke ruang perawatan Novanto oleh dua petugas rumah sakit. Lalu seorang perempuan berkerudung melintasi lorong dan meminta bantuan kepada pihak keamanan rumah sakit untuk menjaga lift di dekat ruang perawatan Novanto. "Pak minta tolong Pak, ini liftnya jangan ada yang masuk dulu," kata perempuan berkerudung itu kepada keamanan rumah sakit.

Keamanan rumah sakit lalu bergegas masuk ke dalam lift tanpa terdengar sepatah kata pun. Beberapa lelaki lalu keluar dari ruangan Novanto dan melihat kondisi lift. "Cukup nggak?" kata salah seorang lelaki dengan cukup keras yang dijawab dengan suara yang hampir berbisik. Dua orang penyidik lalu keluar dari dalam lift membawa dua plastik makanan ringan berukuran besar. "Salat-nya gantian saja," kata seorang penyidik kepada beberapa penyidik lain di depan ruangan Novanto.

Beberapa saat kemudian seorang perempuan berseragam rumah sakit mendorong sebuah tabung yang tampak seperti tabung oksigen di lorong menuju ruang perawatan Novanto dan masuk ke dalam. Situasi di depan ruang itu kemudian menjadi tampak lebih sepi dari sebelumnya. Lalu seorang penyidik menggenggam telepon dan berbicara kepada seseorang. "Pak, ada minuman nggak di sana? Ya, minum-minum dulu lah... Piring dulu ke sini... Piring dulu ke sini... Di lantai tiga..." kata penyidik itu di depan ruang fisioterapi. Situasi kemudian menjadi hening. Setelah beberapa waktu, beberapa penyidik berjalan bersamaan ke arah depan lift di depan tangga jalur evakuasi.

"Ini siapa ya?" kata seorang penyidik sambil berjalan. "Orang kita, bawa minum," timpal temannya sambil melihat ke arah lelaki berpakaian batik tengah meletakan satu kardus air mineral di depan lift tersebut. "Bang di-briefing dulu bang," kata seorang lelaki lainnya yang sudah berada di depan lift tersebut. "Aku jaga sini ya," kata seorang lelaki berbadan tegap setengah berlari ke arah ruang perawatan Novanto. "Jangan, jangan, jangan, Mbak!" kata lelaki itu melarang seorang petugas kebersihan perempuan rumah sakit yang ingin menggunakan lift sambil setengah berlari.

Petugas kebersihan itu pun mengurungkan niatnya dan turun lewat tangga di dekat ruangan Novanto.
"Sudah diclear-in!" kata seorang lelaki lainnya yang berada di depan lift di depan tangga jalur evakuasi. Sekitar pukul 12.30 WIB, terdengar suara roda ranjang rumah sakit berjalan di atas keramik dan tampak belasan orang keluar dari ruang perawatan Novanto. Dalam gerombolan itu tampak  Novanto tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Sebuah selimut cokelat menutupi dari bagian dada hingga ujung kaki. Kening Novanto tampak ditutupi sebuah kain dan sebuah selang oksigen menempel di hidungnya. Dalam kumpulan orang tersebut tampak juga pengacara Novanto Fredrich Yunadi, istri Novanto, Deisti Astriani Tagor, beberapa penyidik KPK, seorang Brimob bersenjata laras panjang, beberapa orang polisi berpakaian sipil, beberapa perempuan berkerudung longgar serta petugas keamanan rumah sakit.

Seorang petugas rumah sakit perempuan berpakaian batik ditemani petugas berseragam mendorong tabung oksigen di samping ranjang rumah sakit yang tengah berjalan. Tampak juga tiga orang berpakaian sipil merekam kejadian itu sambil berjalan cepat mengikutinya. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari orang-orang itu. Mereka berjalan dengan agak cepat menuju lift yang berada di depan tangga jalur evakuasi.

Meski lift yang berjarak sekitar 50 meter dari ruang perawatan Novanto tersebut tampak berukuran lebih besar daripada lift di dekat ruangan Novanto dirawat, namun alarm lift sempat berbunyi tanda kelebihan beban. Lift tersebut tampak sesak karena diisi sekitar sepuluh orang ditambah dengan sebuah ranjang. "Yang tidak berkepentingan keluar dulu, yang tidak berkepentingan ke luar dulu," kata Fredrich dari dalam lift. "Nggak bisa, nggak bisa," kata seorang lelaki berpakaian sipil yang merekam dengan kamera ponsel dari luar lift sambil melambaikan tangan ke dalam lift.

Lift masih berbunyi meskipun dua orang lelaki berpakaian sipil sudah keluar dari lift. Kemudian dua orang perempuan petugas rumah sakit keluar dari lift. Setelah alarm lift tak lagi berbunyi, dua orang petugas rumah sakit itu kemudian masuk kembali ke dalam lift. Lampu indikator lantai lift menunjukkan arah ke bawah. Tiga orang lelaki berpakaian sipil yang tadi merekam dengan kamera ponsel, tampak bergegas lari turun lewat tangga jalur evakuasi tepat di depan lift.

"Tangga, tangga!" kata salah seorang di antaranya. Beberapa orang penyidik lain ikut bergegas lari menuju lantai satu RS Medika Permata Hijau. Sampai di lobi rumah sakit lantai satu, puluhan wartawan telah mengerumuni rombongan Novanto.

Berdesakan
Rombongan Novanto tersebut langsung dikerumuni wartawan yang ingin mengambil gambar dan melangsungkan wawancara. Sempat terjadi desak-desakan antara rombongan tersebut dengan puluhan wartawan. Situasi bahkan sempat menjadi tegang ketika terdengar suara teriakan dari seorang lelaki saat itu. "Dadah papah! Dadah Pak Setnov!" kata beberapa petugas perempuan RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.

Beberapa petugas rumah sakit lain yang berada di dekat kerumunan itu tampak memperhatikan ke arah kerumunan yang menimbulkan kegaduhan tersebut. Ketika sampai di luar, Novanto kemudian dimasukkan ke dalam sebuah mobil ambulans. Ketika itu, Novanto tampak terpejam dengan selang pernapasan menempel di hidungnya. Ambulans tersebut kemudian menyalakan sirine dan langsung keluar lewat pintu masuk utama gerbang rumah sakit. Sebuah mobil ambulans dan beberapa mobil Toyota Avanza hitam yang ditumpangi penyidik KPK lain mengikuti di belakangnya.

Kuasa Hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi mengatakan kliennya dirujuk ke RSCM karena membutuhkan tindakan lebih lanjut mengingat kondisinya yang memerlukan tindakan medis secepatnya. "Dipindahkan ke Cipto. Dalam hal ini karena MRI-nya di sini itu rusak. Sedangkan cedera di kepalanya itu sudah tidak bisa ditunda lagi," kata Fredrich. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Setya Npvanto dijemput penyidik untuk dibawa ke RSCM dalam rangka pemeriksaan CT scan.

"Tersangka SN, siang ini untuk kebutuhan tindakan lebih lanjut seperti CT Scan maka yang bersangkutan dibawa ke RSCM," terang Febri di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Febri menambahkan hal ini dibutuhkan dalam proses penyidikan untuk memutuskan tindakan hukum lebih lanjut terhadap Setya Novanto, termasuk rencana akan diajukan alih rawat ke RSCM.

Dijaga Ketat
Sekitar 15 orang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berjaga-jaga di sekitar ruangan Ketua DPR RI Setya Novanto dirawat. Keterangan itu disampaikan seorang pimpinan Angkatan Muda Partai Golkar Guntur Setiawan usai menemui Setya Novanto di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. "Banyak. Ada lima belasan," kata Guntur di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Guntur mengaku tidak mengenal siapa yang memimpin pengawalan dari unsur lembaga antirasuah itu. 

Guntur mengaku datang bersama teman-temannya atas inisiatif pribadinya. Dia menegaskan AMPG akan akan terus mengawal Setya Novanto sampai kapan pun. "AMPG solid untuk kawal ketua umum. Bagaimana pun jelek buruknya, SN masih ketua umum kita dan kita masih kawal beliau," kata dia.


Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teriakan 'Dadah Papa' Iringi Proses Pemindahan Setya Novanto ke RSCM"

Post a Comment