Zeyno Baran, Pengamat Politik Nixon Center: Menghancurkan Hizbut-Tahrir Adalah Dengan Cara Membenturkan Dengan Kelompok Islam Lainnya, Persis Seperti Rezim Sekarang
Beritaislamterbaru.org - Zeno Baran, pengamat politik dari Nixon Center adalah pencetus ide-ide bagaimana menghancurkan Hizbut Tahrir, karena menurutnya, Hizbut tahrir adalah organisasi yang saat ini paling berbahaya bagi AS dan sekutunya.
Perhatikan baik-baik rekomendasinya, kemudian cocokkan dengan situasi yang kini dihadapkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia. Klop 100 %. Copy paste banget.
Jadi kini, kita mengikuti saran-saran dari kafir ini untuk memusuhi Hizbut Tahrir, padahal jelas jika Hizbut tahrir berhasil dilenyapkan, AS dan sekutunyalah yang tertawa puas, karena musuh nomer wahid mereka telah punah justru oleh tangan-tangan umat Islam sendiri.
Beginilah keji dan culasnya kafir penjajah utk terus membungkam umat dari menginginkan kebangkitan. Saat ini, semuanya tergantung kita, umat Islam. Apakah kita menyadari ini, atau justru menyediakan diri menjadi perpanjangan tangan kafir penjajah, mendzalimi saudara sendiri demi kepentingan kafir penjajah.
Berikut saduran yang terkait dari buku tersebut.
HIZB UT-TAHRIR; ISLAM’S POLITICAL INSURGENCY (HIZBUT TAHRIR; PEMBERONTAKAN POLITIK ISLAM).
REKOMENDASI-REKOMENDASI (RECOMMENDATIONS)
Lanjutan...
Tidak seperti dalam Perang Dingin, AS tidak dapat mencegah penyebaran ideologi HT melalui alat diplomasi tradisional (traditional diplomatic tools), yaitu hanya memfokuskan pada negara. Pemain utama (dalam perang) dengan satu miliar lebih umat Islam adalah pemain yang tidak memiliki negara (non-state actors, maksudnya adalah Khilafah). Karena itu, AS harus mengubah strategi dalam berhubungan dengan umat Islam. Pemerintahan yang menindas, tidak legitimate, dan korup, tidak dapat digunakan lagi untuk memenangkan HATI DAN PIKIRAN umat Islam, terlebih lagi bagi mereka yang sudah memiliki kesadaran politik (political consciousness). Karena itu, Amerika perlu berhubungan dengan umat Islam layaknya sebagai “masyarakat sipil”. Hal ini akan mengantarkan pada pembentukan kerangka kerja baru (new framework) dari politik international.
Pada saat yang sama, harus ada forum internasional yang terpercaya (legitimate international forum) dimana orang-orang Islam yang MODERAT dapat mengekspresikan pendapat mereka. Di bawah kepemimpinan Presiden dari Malaysia dan Sekjen dari Turki, Organisasi Konferensi Islam (OKI) dapat secara potensial digunakan untuk kepentingan ini. Sebagai tambahan, PBB (United Nations) harus menambah negara-negara dengan mayoritas muslim sebagai anggota Dewan Keamanan (Security Council). Saat ini, kebanyakan umat Islam percaya bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya setelah terjadinya pengeboman oleh teroris. Jika kursi Dewan Keamanan (DK) diduduki oleh negara-negara seperti Indonesia atau Turki, maka persepsi (tentang Amerika) akan menjadi lebih baik. (Penerjemah: Betapa hebatnya strategi ini. Dan inilah yang saat ini dimainkan oleh Amerika. Dan hasilnya, dunia Islam “mati kutu” tak berdaya. Seakan-akan mereka memberi kepercayaan kepada umat Islam, padahal hal itu adalah untuk membungkam umat Islam. Tak ada lagi, yang menginginkan syariah, apalagi Khilafah. Sebuah strategi yang teramat-sangat-sungguh mujarab sekali dalam membungkan mulut umat Islam).
Perang baru ini memerlukan kemampuan baru (new skill). Sebuah kursus dasar (basic training course) tentang budaya, nilai dan tradisi Islam sungguh sangat diperlukan bagai semua pegawai Amerika (American officials) saat berinteraksi dengan umat Islam. Sebab, para angota HT sendiri telah disiapkan dengan baik (well prepared) dalam pertarungan ideologi ini, dengan training selama dua tahun (dalam halaqoh-halaqoh). Karena itu, diplomat, pegawai militer, dan pengambil kebijakan (policymakers) Amerika, harus disiapkan dan dibekali peralatan yang lebih baik.
Dalam lingkungan dimana kecurigaan terhadap agenda jangka panjang AS di dunia Islam sangat berpengaruh, Amerika harus menangani masalah ini dengan sangat baik, terutama terhadap setiap isu yang berkaitan dengan Islam. Pendekatan AS harus tidak rumit dalam interaksi sehari-hari, dan Amerika harus memperlakukan umat Islam dengan bermartabat dan hormat, hal ini merupakan titik awal yang besar dalam membungkam pernyataan HT bahwa Amerika arogan dan tidak adil terhadap dunia Islam.
Bahkan bagi umat Islam yang hidup dalam kemiskinan sekalipun akan merasa memiliki martabat (dignity) dan kebanggaan (pride) dalam hubungan mereka dengan peradaban besar (Kapitalisme). Jika, umat Islam ini didekati dengan cara yang keliru, maka kebanggaan ini akan dengan mudah hilang, dan berubah menjadi kebencian (hatred).
Pembuat kebijakan senior Amerika harus benar-benar menyadari bahwa mereka sedang ditarik ke dalam perang dengan Islam, yaitu disebabkan seringnya militer AS menyerang masjid, tempat suci, dan simbol-simbol umat Islam yang penting di Irak.
Meskipun hal itu merupakan taktik (strategi) yang masuk akal untuk mencari pemberontak (insurgents) yang bersembunyi di tempat-tempat religius, namun Amerika justru akan kalah dalam perang ideologi (ideological war) jika Amerika terus melakukan hal ini. Dari monograf (laporan) ini, jelas bahwa Amerika Serikat telah kalah dalam perang persepsi di dunia Islam. Operasi militer di tempat-tempat religius yang penting, dapat diartikan sebagai perang terhadap Islam itu sendiri (war on Islam).
Untuk meminimalisasi persepsi ini, pemimpin Amerika harus mempertimbangkan pertimbangan politik (political consideration) selain pertimbangan teknis saat membuat keputusan militer di negeri-negeri Muslim. (Penerjemah: Menurut Baran, penyerangan secara militer terhadap umat Islam itu tidak masalah, asalkan jangan sampai melukai hati umat Islam. Untuk itu, Amerika harus “cerdas” dalam operasi militer saat membumi-hanguskan dunia Islam. Kalau perlu Amerika harus mencari cara, meski yang menyerang adalah Amerika, tetapi yang disalahkan umat Islam sendiri, terutama HT).
Nagara Barat tidak boleh mentoleransi penyebaran HT yang tidak toleran. HT telah berhasil menyebarkan gagasan-gagasan yang dipenuhi kebencian (hate-filled), anti-Semitik (anti Yahudi), anti konstitusional, semua itu akibat “toleransi” Barat kepada HT yang tidak toleran itu. HT telah menggunakan slogan Barat (West’s own slogan) dan prinsip-prinsipnya untuk melemahkan struktur sosial yang sangat fundamental bagi Barat. Oleh karena itu, pemerintah, pendidik, dan tokoh-tokoh religius Barat harus memerangi ideologi yang dipenuhi dengan kebencian (hate-filled ideology).
Dengan senjata sosial (social weapon) yang sama, mereka gunakan untuk memerangi lainnya, yaitu intoleransi kelompok-kelompok non-Muslim. (Penerjemah: Saat Baran mengatakan bahwa HT dan ideologinya dipenuhi kebencian, ini merupakan pendapat Baran sendiri yang sangat benci kepada HT dan Islam. Pendapat Baran ini sebenarnya tidak ada faktanya sama sekali. HT tidak membenci siapapun, HT hanya membenci aturan yang mendzalimi manusia, yakni Kapitalisme dan Sosialisme, dan HT berjuang untuk menggantinya dengan aturan yang dipenuhi kebaikan, yaitu syariah islam dan Khilafah).
Negara barat harus mendukung peningkatan pendidikan bagi umat Islam MODERAT. Para ahli agama (theologians) dan para imam yang dididik dengan pemikiran Islam Moderat, seperti di Turki, Asia Tengah, Indonesia, atau Malaysia, akan memberikan interpretasi yang toleran tentang Islam, hal itu merupakan elemen paling menonjol dari Sufisme. Dengan demikian, mereka akan senang hati bersanding dengan agama dan budaya lain (other religions and cultures).
(Penerjemah: Kelompok umat Islam yang akan dimainkan untuk melawan perjuangan syariah dan Khilafah adalah kelompok Sufi. Ini merupakan strategi untuk mengadu umat Islam. Ini merupakan strategi yang sangat jahat, dan strategi ini tampaknya sudah mulai diterapkan. Oleh karena itu, umat Islam yang menekuni Sufisme harus diingatkan dan diberitahu tentang strategi ini. Point utama yang dapat dijelaskan adalah bahwa HT yang memperjuangkan Khilafah didirikan oleh Syeikh Taqiyuddin, yang merupakan cucu Syeikh Yusuf an-Nabhany, seorang tokoh Sufi Internasional dan penulis kitab Jami’ Karoomatil Auliyah, Ensikolpedi Karomah Para Wali).
Struktur legal yang ada di Barat saat ini untuk melawan HT tidaklah mencukupi. Karena itu, diperlukan alat baru, seperti undang-undang yang dapat mempidanakan “kejahatan karena menyebarkan kebencian (hate crime)” dan “propaganda kebencian (hate propaganda)”.
Hal paling utama, negara-negara Barat harus bersatu melarang HT secara keseluruhan. Larangan terhadap HT di Jerman saat ini dan di beberapa tempat lain, tidaklah memadai. Saat ini, HT sedang “berjualan yuridiksi” dan menjalankan aktivitasnya, tanpa perasaan takut terhadap tuntutan kriminal. Jika negara-negara Barat terus membiarkan HT, maka akan terjadi radikalisasi lebih jauh lagi, bukan hanya terhadap umat Islam di negara-negara luar, tetapi juga di tengah Eropa sendiri. (Penerjemah:
Betapa bingungnya mereka untuk melawan HT!. HT tidak pernah melakukan tindakan kekerasan, sehingga undang-undang di Barat sendiri tidak mampu mempidanakan dan melarang HT di sana. Mereka mencoba menggunakan istilah “hate crime atau kejahatan karena menyebarkan kebencian”, tetapi hal ini sangat subyektif dan tidak ada landasan secara ilmiah sama sekali. Sehingga hal itu ditentang oleh para pakar Barat sendiri).
Penanganan Uni-Eropa (UE) pada Turki menjadi ujian penting bagi kebijakan Barat. Jika tradisi Muslim Turki yang menekankan pentingnya konvergensi suatu peradaban diterima oleh UE, maka HT akan kehilangan argumen yang menyatakan bahwa saat ini telah terjadi benturan peradaban (clash of civilizations). Jika UE menerima Turki sebagai anggota, maka hal ini akan menunjukkan bahwa peradaban Islam dan peradaban Barat sangat selaras (fully compatible). Di lain pihak, jika sentimen anti-Muslim di UE terus meningkat, dan umat Islam Turki sendiri bergabung dengan pemikiran Barat, maka perang ideologi akan hilang dengan sendirinya.
*****
Disadur dari facebook Syarifuddin Chan
[www.beritaislamterbaru.org]


