Ngeri, Ular Piton Jatuh dari Plafon Sekolah, Tepat di Kepala Bu Sri, Kebayang Gak?

Beritaislamterbaru.org - BANJARMASIN- Ular piton jatuh dari plafon sekolah membuat geger para guru dan siswa di SDN Basirih 6 Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Ular piton sepanjang lima meter itu jatuh tepat di kepala Bu Sri.
Tak ayal, keberadaan ular yang diperkirakan berbobot 60 kilogram tersebut membuyarkan konsentrasi para siswa kelas 1-5 yang sedang mengerjakan soal ulangan mata pelajaran Seni, Budaya, dan Keterampilan (SBK).
“Anak-anak berhamburan ke luar ruangan dan meninggalkan soal ulangan lantaran berebut ingin melihat wujud ular sawa tersebut. Kami para guru juga kerepotan, dan langsung menyuruh mereka kembali ke ruangan menyelesaikan ulangan,” ujar Sukma, guru olahraga SDN Basirih 6 Banjarmasin kepada Radar Banjarmasin, Kamis (4/5).
Ular besar di SD yang berlokasi di Komplek UKA Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan tersebut memang mengejutkan. Ular tersebut jatuh dari plafon ruang Tata Usaha (TU) yang berlapis gipsum.
“Mungkin karena sudah kekenyangan dan semakin berat, plafon gipsum sampai ambrol karena tak kuat menahan bobot ular sawa tersebut. Ular jatuh tepat di atas kepala Ibu Sri yang kala itu sedang mengerjakan administrasi sekolah dengan laptopnya,” ujar Sukma.
Sontak, Bu Sri yang menjabat Kepala Tata Usaha (KTU) SDN Basirih 6 Banjarmasin langsung menjerit sekencang-kencangnya sambil meminta tolong.
“Saya kira Ibu Sri jatuh, karena sebelum beliau menjerit didahului suara braaaakkk, kencang sekali. Saya spontan mendatangi ruang TU,” tutur Sukma yang saat itu sedang berada di sebelah ruang TU.
Sial, begitu jatuh dari plafon, sang ular bukannya kabur ke luar ruangan TU. Ular yang kulitnya mirip corak kain batik itu justru nangkring dan melingkar di depan pintu masuk ruang TU. Padahal, pintu tersebut satu-satunya akses keluar masuk ruang TU.
Jeritan Bu Sri membuat seorang balita yang tertidur lelap ayunan terbangun dan menangis. Hal itu membuat para guru dan siswa semakin panik.
“Balita itu anak salah satu guru honor di SDN Basirih 6 Banjarmasin. Pihak sekolah mengizinkan ruangan mushola digunakan untuk wadah istirahat sang anak bersama nenek yang menjaganya, sementara ibunya mengajar,” terang Sukma.
Antara panik dan takut, Ibu Sri lantas kabur ke ruangan mushola yang letaknya hanya disekat partisi dengan ruang TU. Dua wanita paruh baya dan satu balita terkurung di ruang sempit.
Situasi kian dramatis lantaran ketiganya diadang ular piton di pintu keluar. Beruntung, di ruangan mushola tersebut ada jendela kecil sebagai celah untuk menyelamatkan diri.
Para guru bersiap mengevakuasi mereka bertiga dari jendela kecil tersebut. Caranya tak gampang. Para guru harus berlari memutar ke belakang ruang TU. Padahal, tekstur tanah di belakang ruang tersebut adalah tanah rawa yang berlumpur.
“Kami tidak peduli lagi, mau tidak mau harus berkubang ke area belakang ruang TU. Celana becek, kotor, dan basah demi mengeluarkan Ibu Sri, balita, dan juga sang nenek melalui jendela ruang mushola,” paparnya.
Begitu ketiganya berhasil diselamatkan, ular piton itu malah masuk ke dalam ruang mushola. Ular itu merayap masuk ke dalam ayunan sang balita yang dibuat dari berlapis kain Tapih Bahalai (kain selendang khas Banjar).
“Ular itu malahan seperti asyik ayun-ayunan. Mungkin dia mengantuk dan ingin tidur sambil berayun-ayun,” selorohnya.
Situasi itulah yang dimanfaatkan oleh warga kampung dan guru-guru untuk menangkap sang ular. Setidaknya, ada enam orang kampung yang memberanikan diri masuk ke ruang TU dan menyergapnya dari ayunan. Tak menunggu lama, orang-orang kampung kemudian keluar ruangan membawa sang ular.
“Perlu tiga orang untuk mengangkat ular itu. Para siswa yang sudah selesai ulangan langsung mendekat untuk melihat ular yang bikin geger sekolah,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Basirih 6 Banjarmasin, M Syukri mengaku juga kaget dengan keberadaan ular sawa berukuran besar di sekolah yang dipimpinnya itu.
[pojoksatu/www.beritaislamterbaru.org]
