Soal Broadcase 49 Tahun Lagi Umat Islam Punah? Hati-hati, Ini Penjelasan Ulama




Beritaislamterbaru.org - 49 Tahun Lagi Umat Islam Punah?

Oleh M Taufik  NT

Beberapa kali masuk BC (Broadcasting) ke WA saya[1] menyatakan bahwa umur umat Islam tidak lebih dari 1500 tahun, artinya tidak sampai 49 tahun lagi umat Islam akan ‘punah’ dari muka bumi. Mengingat isi BC tersebut menyandarkan hitungannya ke para ‘ulama besar, yang kepakarannya tidak diragukan lagi; Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Jalaluddin As-Suyûthi, dan Imam Ibnu Hajar al Hambali(?), tergelitik juga hati untuk ‘meneliti’ benarkah mereka rahimahumullaah mengatakan seperti yang disimpulkan dalam BC tersebut?, kalau benar, apa pula landasan ‘perhitungan’ tersebut?.


Imam Jalaluddin as Suyûthi (w. 911 H)

Dalam kitabnya, Al Hâwi lil Fatâwa, 2/104, beliau menyatakan:

الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ أَنَّ مُدَّةَ هَذِهِ الْأُمَّةِ تَزِيدُ عَلَى أَلْفِ سَنَةٍ، وَلَا تَبْلُغُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهَا خَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ

“Yang ditunjukkan oleh sejumlah riwayat (atsar) bahwa waktu (durasi) umat ini (Islam) adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak sampai lebih dari 500 tahun.”

Jadi penyandaran hitungan bahwa ‘umur’ umat Islam maksimal 1500 tahun kepada Imam as Suyûthi adalah benar.

Jika sekarang tahun 1438 H, sebelum hijrah ada 13 tahun, maka jika dihitung secara Matematis, umur umat Islam memang tersisa 1500 – 1438 – 13 = 49 tahun, tidak sampai 50 tahun!.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)

Dalam kitabnya, Fathul Bâry, 4/449, dalam hadits tentang perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani ialah seperti seseorang yang mempekerjakan suatu kaum agar bekerja hingga malam, Yahudi hanya bekerja sampai tengah hari, lalu tidak mau melanjutkan, Nashrani hanya bekerja dari tengah hari sampai Ashar, lalu juga tidak mau melanjutkan, dan pekerjaan dirampungkan kaum muslimin yang bekerja dari Ashar sampai Maghrib namun mendapat upah penuh seperti bekerja dari pagi , ketika membahas hadits ini, beliau menyatakan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ بَقَاءَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَزِيدُ عَلَى الْأَلْفِ لِأَنَّهُ يَقْتَضِي أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ نَظِيرُ مُدَّتَيِ النَّصَارَى وَالْمُسْلِمِينَ وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ النَّقْلِ عَلَى أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ إِلَى بَعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفَيْ سَنَةٍ وَمُدَّةَ النَّصَارَى مِنْ ذَلِكَ سِتُّمِائَةٍ وَقِيلَ أَقَلُّ فَتَكُونُ مُدَّةُ الْمُسْلِمِينَ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفٍ قَطْعًا

“(Hadits ini) dijadikan dalil bahwa keberlangsungan (umur) umat ini mencapai lebih dari seribu tahun, sebab hadits ini menuntut bahwa waktu (durasi) Yahudi setara dengan gabungan waktu Nasrani dan muslimin . Dan sesungguhnya para ahli riwayat telah sepakat bahwa jangka waktu yang dilalui umat Yahudi hingga diutusnya Nabi adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan waktu yang dilalui Nasrani hingga diutusnya Nabi adalah 600 tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu, sehingga waktu yang akan dilalui kaum muslimin pasti lebih dari seribu tahun”
Jadi kalau menggunakan pernyataan di atas, umur umat Islam diperkirakan = umur Yahudi – umur Nashrani = 2000 – 600 = 1400 tahun dan ada lebihnya karena umur Nashrani (jarak antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad SAW) ada yang menyatakan kurang dari 600 tahun, sebagaimana beliau nyatakan.

Imam Ibnu Rajab al Hambali (w. 795 H)

Saya mencari ulama bernama Ibnu Hajar al Hambali, sebagaimana dalam BC, tidak ketemu, mungkin yang dimaksud adalah Imam Ibnu Rajab al Hambali, dalam kitabnya yang bernama Fathul Bâry (nama kitabnya saja yang sama dengan kitabnya Imam Ibnu Hajar), pada juz 4 hal 343, ketika menjelaskan hadits terkait sebelumnya, beliau menyatakan:

وقد قدمنا: أن حديث ابن عمر الذي خرجه البخاري هاهنا يدل على أن مدة الدنيا كلها كيوم وليلة، وأن مدة الأمم الثلاث أصحاب الشرائع المتبعة قريب من نصف ذلك، وهو قدر يوم تام، وأن مدة اليهود منه إلى ظهور عيسى حيث كانت أعمالهم صالحة تنفعهم عند الله كما بين صلاة الصبح إلى صلاة الظهر، ومدة النصارى إلى ظهور محمد - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حيث كانت أعمالهم صالحة مقبولة كما بين صلاةِ الظهر والعصر، ومدة المسلمين منه من صلاة العصر إلى غروب الشمس، وذلك في الزمان المعتدل قدر ربع النهار، وهو قدر ثمن الليل والنهار كما سبق ذكره وتقديره.

“Dan telah kami sampaikan: bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang dikeluarkan oleh al Bukhary di sini menunjukkan bahwa masa (berlangsungnya) dunia seluruhnya seperti masa sehari semalam, dan masa tiga umat penganut syari’at-syari’at itu hampir setengahnya, yakni sekitar sehari penuh, dan masa Yahudi hingga diutusnya Isa as, dari sisi amal shalih mereka bermanfaat, adalah seperti antara shalat subuh hingga dzhuhur, dan masa Nashrani hingga lahirnya Nabi Muhammad saw, dari sisi amal shalih mereka diterima ,adalah seperti antara shalat dzuhur dengan ashar, dan masa kaum muslimin adalah dari shalat ashar hingga terbenam matahari, dan yang demikian itu, dalam ukuran waktu yang sedang adalah sekitar ¼ hari, dan sekitar 1/8 dari sehari semalam sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Setelah menjelaskan hal tersebut beliau menegaskan:

لكن مدة الماضي من الدنيا إلى بعثة محمد - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، ومدة الباقي منها إلى يوم القيامة، لا يعلمه على الحقيقة إلا الله عز وجل، وما يذكر في ذلك فأنما هو ظنون لا تفيد علماً.

Akan tetapi masa yang telah lewat dari dunia sampai diutusnya nabi Muhammad saw, dan masa yang tersisa hingga hari kiamat, tidak ada yang mengetahui secara hakiki kecuali Allah ‘azza wa jalla, dan apa-apa yang disebut dalam (pembahasan) yang demikian itu hanyalah merupakan perkiraan-perkiraan (dzunûn) yang tidak berfaedah kepastian (‘ilm).
...
Mendudukkan Permasalahan

Dengan membaca dan menyimak penjelasan ketiga imam besar tersebut, seharusnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa pernyataan usia umat Islam maksimal 1500 tahun itu adalah perkiraan, bukan kepastian. Yang saya khawatirkan kalau hal tersebut dianggap kepastian, atau dianggap itulah pandangan Islam, nanti ketika ternyata setelah 1500 tahun (49 tahun lagi) ternyata umat Islam masih ada, akan banyak yang menyalahkan Islam itu sendiri.

Imam as Suyûthi sendiri sebelum membahas hal tersebut menyatakan:

الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ...

Yang ditunjukkan oleh riwayat-riwayat…
Lalu beliau mengemukakan riwayat-riwayat yang dimaksud, yang tidak ada yang beliau nyatakan itu sebagai riwayat yang mutawatir, maka tahulah kita bahwa ungkapan beliau itu berfaedah dzann (perkiraan) .

Adapun Imam Ibnu Hajar al Asqalani, beliau menyatakan dibagian awal penjelasan dengan ungkapan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ ...
“(Hadits ini) dijadikan dalil...”

Beliau menggunakan shighat majhul (bentuk kalimat pasif), setara dengan shighat tamridh yang mengindikasikan lemahnya pendapat yang beliau nukil, dengan demikian beliau hanya sekadar menukil pendapat sebagian kalangan dalam menafsirkan hadits tersebut.

Lebih jelas lagi apa yang dinyatakan Ibnu Rajab al Hambali:

وما يذكر في ذلك فأنما هو ظنون لا تفيد علماً

apa-apa yang disebut dalam (pembahasan) yang demikian itu hanyalah merupakan perkiraan-perkiraan (dzunûn) yang tidak berfaedah kepastian (‘ilm).

Untuk menyatakan apakah perkiraan/hitungan tersebut benar atau salah, tinggal dilihat kesesuaian dengan fakta saja, jika ternyata setelah 49 tahun-an lagi umat Islam punah, berarti perkiraan tersebut benar, jika tidak, maka perkiraan tersebut keliru.

Adapun alasan kenapa usia umat Islam maksimal 1500 tahun, hitungannya disandarkan pada berbagai riwayat , diantaranya bahwa usia bumi hanya 7000 tahun saja , sementara Nabi saw diutus pada akhir tahun ke 6000an, juga riwayat bahwa Dajjal akan keluar pada permulaan 100 tahun, lalu Isa turun membunuh Dajjal, dan (Isa as) hidup di bumi selama 40 tahun, juga riwayat bahwa setelah terbitnya matahari dari Barat, manusia masih hidup 120 tahun, antara dua tiupan sangkakala malaikat Isrofil itu 40 tahun...munculnya al Mahdi adalah 7 tahun sebelum keluarnya Dajjal....

Dengan riwayat-riwayat ini saja, jika menghitungnya secara Matematis sebagaimana didapatnya angka 1500, maka jika dikatakan usia umat Islam tidak sampai 1500 tahun, padahal masa Imam Mahdi dan Nabi Isa tentu masih ada umat Islam, maka Imam Mahdi tentunya akan ada tidak sampai 1500 – 1438 – 13 – 7– 40 = 2 tahun lagi. Jika Imam Mahdi munculnya setelah khilafah tegak, yakni setelah khalifah sebelumnya wafat, maka harusnya tahun-tahun ini, bahkan sebelum ini, khilafah sudah tegak.

Tentang dunia akan berakhir setelah 7000 tahun dari penciptaannya, dalam pandangan ilmiah, Ahli geokimia UCLA menemukan bukti bahwa kehidupan

telah ada di Bumi setidaknya 4,1 miliar tahun lalu, sedangkan usia bumi sendiri sekitar 4,54 miliar tahun , walaupun ini juga masih berupa perkiraan ilmiah yang masih bisa diperdebatkan.
...
Kesimpulan

Kiamat akan terjadi itu adalah bagian keyakinan, mengingkarinya berarti kafir. Adapun kapan terjadinya, ayat alQur’an dan hadits-hadits shahih tidak ada menyebut hitung-hitungan secara jelas.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "kapankah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia…" (QS. Al-A'raf 187)

Adapun riwayat yang menunjukkan hitungan kapan kiamat, Imam As Sakhôwi (w. 902 H) menyatakan:

كل ما ورد مما فيه تحديد لوقت يوم القيامة على التعيين فإما أن يكون لا أصل له ... أو لا يثبت إسناده

Setiap riwayat yang menyebutkan batasan hari kiamat dengan ta’yin (penetapan), adakalanya tidak ada asalnya… atau tidak kuat sanadnya (al Maqâsidul Hasanah, hal 693) .

Yang lebih penting dari membahas kapan kiamat?, atau kapan umat Islam akan berakhir? adalah membahas amal apa yang telah kita persiapkan untuk bekal di hari kelak. Dari Anas r.a, dia berkata:

أنَّ رجلاً سألَ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ السَّاعةِ، فقالَ: متى الساعة؟ قَالَ: وماذا أعدَدتَ لها؟ قال: لا شيء، إلاَّ أني أحِبُّ اللهَ ورَسُولَه، فَقالَ أنتَ مَعَ مَن أحبَبْتَ

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kiamat. Ia berkata, “Kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak menyiapkan apa pun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul saw. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” (Muttafaq ‘Alaih). Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

[www.beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini