Kedua Tangannya Terputus dan Nyawapun Melayang, Demi Mempertahankan Panji Islam

Panji Rasulullah

Beritaislamterbaru.org - Mereka gugur dalam mempertahankan bendera Islam, tapi tak ada upacara bendera untuk menghormati bendera Islam itu….
Ia, dikenal dengan Dzul Janahain. Siapakah dia?

Ia adalah Ja’far bin Abi Thalib. Salah satu syuhada dalam perang Mu’tah. Perang melawan bangsa Romawi. Perang yang merenggut 3 pemimpin perang dari sahabat-sahabat Nabi yang terbaik.

“Kalau Zaid terbunuh, maka Ja’far (yang menggantikannya). Jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah (yang menggantikan).” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi)

Ketiga nama yang disebutkan Nabi tersebut, akhirnya menemui Sang Pencipta, Allah ta’ala, ketika begitu gagah beraninya mempertahankan bendera Islam yang mereka bawa dalam melawan tentara Romawi yang jumlahnya ratusan ribu (200.000 tentara), sementara pihak kaum muslimin hanya 3.000 pasukan saja! Perbandingan yang sangat jauh.

Maka itu sebagian sahabat mengusulkan untuk meminta bantuan kepada Nabi. Mendengar itu Abdullah bin Rawahah dengan gagah membangkitkan semangat tempur kaum muslimin:

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”

Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar”.

Maka bertemulah pasukan tempur itu dan terjadilah peperangan yang dahsyat.

Rasulullah menceritakan bagaimana ketiga panglima gugur kepada para Sahabat, bahkan sebelum berita itu sampai kepada beliau (tentunya, ini adalah wahyu Allah):

“Bendera dipegang oleh Zaid lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far diapun gugur. Kemudian bendera dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan diapun gugur,” sementara air mata beliau menitik, akhirnya bendera dipegang oleh salah satu pedang dari pedang-pedang Allah hingga Allah bukakan kemenangan untuk mereka.” (HR Bukhari)

Ya, Zaid bertempur dengan gagah berani, kemudian ia gugur. Kemudian, bendera pertempuran kemudian dipertahankan oleh Ja’far bin Abi Thalib dengan gagah beraninya.

Ja’far menggenggam bendera dengan tangan kanannya. Khawatir kuda perangnya menjadi santapan orang-orang kafir, Ja’far turun dan membunuh kudanya. Para prajurit musuh menyerbunya dan memutus tangan kanannya yang menggenggam bendera.

Tangan perkasa itu jatuh bersama bendera. Tapi dengan sigap, sebelum menyentuh tanah, tangan kiri Ja’far menyambar bendera dan menegakkannya. Prajurit kafir lainnya menebas tangan kirinya, tapi Ja’far tetap tidak rela bendera Rasulullah jatuh sementara dia masih hidup. Akhirnya bendera itu didekapnya dengan lengannya yang buntung, dia dekatkan ke dadanya. Dia tetap tegar. Tebasan pedang dan tusukan tombak tidak dihiraukannya, akhirnya beliaupun gugur meraih janji pasti dari Nabi. Jannah (surga) menjemputnya, kedua tangan itupun diganti Allah l dengan dua buah sayap yang digunakannya terbang ke mana saja di dalam surga. Dikenallah dia dengan Dzul Janahain, si empunya dua sayap.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar , bahwa dia berdiri di dekat jenazah Ja’far dan menghitung ada sekitar 90 bekas luka sabetan dan tusukan tombak di sekujur tubuhnya. Setiap kali dia berjumpa dengan putra Ja’far, dia mengucapkan salam: “Assalamu ‘alaika, yaa ibna dzil janahain (salam sejahtera atasmu, wahai putera pemilik dua sayap).”

Begitu Ja’far gugur, maka Abu Rawahah pun maju mempertahankan bendera Islam.

Abdullah bin Rawahah turun dari kendaraannya. Setelah dia turun, datang putra pamannya menawarkan sepotong daging kepadanya. Begitu menggigitnya sekali, dia mendengar suara ramai banyak orang, lalu dia berkata kepada dirinya sendiri: “Dan engkau masih di alam dunia?” Diapun mengambil pedangnya lalu maju dan bertempur hingga gugur sebagai syahid.

Begitulah 3 panglima tempur itu pun syahid dijalan Allah. Mereka berkorban demi Allah, mempertahankan bendera Islam untuk tetap berkibar ketika bertemu dengan musuh-musuh Allah.

Kemudian tampuk pimpinan dipegang Khalid bin Walid. Sebelumnya Tsabit bin Arqam dari Bani Al-’Ajlan mempertahankan bendera itu. Dia berkata: “Hai kaum muslimin sekalian, pilihlah salah seorang dari kalian.” Pasukan itu mengatakan: “Engkau saja.”

Kata Tsabit: “Aku tidak pantas.”

Akhirnya mereka memilih Khalid bin Al-Walid. Setelah dia memegang bendera perang, dia berusaha menyelamatkan pasukan hingga sampai di Madinah. Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman (HR.Bukhari 4265-4266).

Demikianlah dahsyatnya perang Mu’tah dimana Allah membuktikan janji-Nya

“ Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Qs. Al-Baqarah/2:249)

Lihatlah, bagaimana para Sahabat radiyallahu anhum ajmain, bertempur dengan gagah beraninya. Mereka berupaya mempertahankan bendera Islam untuk tetap berkibar selama peperangan berlangsung. Lihatlah, bagaimana Ja’far menebus bendera itu dengan keduatangannya. Ia rela mempertahankan bendera itu dengan menukar keduatangannya, yang Allah gantikan dengan sayap di surga. Subhanallah…

Demikianlah, meski mereka mempertahankan panji-panji Islam dengan menebusnya dengan nyawa-nyawa mereka, tapi tak pernah kita dapatkan sesudahnya, Nabi dan para Sahabatnya memuliakan bendera Islam itu dengan mengadakan upacara penghormatan bendera (layaknya seperti saat ini).

Mudah-mudahan yang sedikit ini berguna. Wallahu a’lam

[www.beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini