Mengapa Pengungkapan Kasus Perampokan Sadis di Pulomas Dinilai Melambat?

Mengapa Pengungkapan Kasus Perampokan Sadis di Pulomas Dinilai Melambat?
Penangkapan tersangka pembunuhan di Pulomas.

Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar menilai, pengungkapan kasus perampokan di rumah Dody Triono di Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur berjalan dengan lambat. "Kenapa pengungkapan kasus Pulomas lambat? sebab penyelidikan polisi dan analisis kriminàlnya kurang matang dan diburu kejar prestasi.
Proses diàbaikan yang dikejar target," kata Bambang kepada Republika.co.id, Ahad (1/1).

Menurut Bambang, dalam pengungkapan kasus ini perlu inward looking bagi Polri untuk mengubah cara tersebut. Lambatnya pengungkapan kasus perampokan di Pulomas sama seperti dalam menangani perampokan di perumahan Pondok Indah bulan lalu. "Toh sampai kini kasus perampokan di Pondok Indah juga tidak jelas penyelesaiannya," ucapnya.

Polda Metro Jaya telah mengkonfrotir keterangan dua pelaku perampokan di rumah Dody Triono, Erwin Situmorang (ES) dan Alfins Bernius Sinaga. Dari keterangan mereka, polisi menegaskan Ramlan Butarbutar merupakan otak perampokan sadis tersebut.

Polisi sudah menangkap tiga orang pelaku dalam perampokan rumah Pulomas. Ramlan dan Erwin (ES) ditangkap terlebih dahulu pada Rabu (28/12) sore di Jalan Kalong, Rawalumbu, Bekasi. Karena keduanya melakukan perlawanan, polisi menembak keduanya hingga Ramlan tewas.

Polisi juga mengamankan adik RB, R alias Ucok. R ditangkap karena diduga menyembunyikan RB selaku pelaku perampokan. R kini masih menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Terakhir, polisi menangkap satu pelaku lainnya berperan sebagai sopir, Alfins Bernius Sinaga. Alfins ditangkap Rabu (28/12) malam di Perumahan Vila Mas, Bekasi Utara.

Republika

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini