Selain Banyak Langgar Aturan, "Parade Kita Indonesia" Dinilai Hanya Memperkeruh Suasana

Sosiolog asal Universitas Indonesia (UI), Musni Umar mengatakan, selain melanggar Peraturan Gubernur Nomor 12 tahun 2016 tentang Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), Parade Bhinneka Tunggal Ika juga dinilai hanya memperkeruh suasana yang tengah memanas belakang ini. "Secara sosial aksi tersebut malah memunculkan jarak, ketidaknyamanan jadi bukannya persatuan," kata Musni kepada Okezone, Senin (5/12/2016).
Tidak hanya itu, Musni melihat suasana dalam aksi tersebut juga memunculkan "perang" komentar di berbagai jenis media sosial. Sebab, masyarakat umum menanggapi aksi tersebut sebagai aksi tandingan Aksi Bela Islam Jilid III atau dikenal dengan aksi damai 212.
"Bisa dipantau di beberapa media sosial, masyarakat taunya ini aksi tandingan. Dan saya rasa juga auranya sangat berbeda dengan aksi yang kemarin (Jumat 2 Desember 2016)," tuturnya
Alhasil, menurut Musni, Aksi Indonesia Kita yang juga diikuti sejumlah partai politik pendukung gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tersebut dinilai sia-sia. Pasalnya pesan moral sama sekali tidak ada. "Jadi esensi kebhinnekaan dalam aksi itu tidak ada," lanjutnya.
Seperti diketahui, Parade Bhinneka Tunggal Ika digelar bertepatan dengan Car Free Day di sekitaran Bundaran HI, Jalan Sudirman-MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu 4 Desember 2016. Kegiatan ini juga diikuti sejumlah partai politik.
Sumber: Okezone.com
