Meluruskan Pemahaman Yenni Wahid Yang Anggap Natal Sama Dengan Kelahiran Nabi Isa AS Dan Katakan Natal Sebagai Kegembiraan Semua Pihak

Meluruskan Pemahaman Yenni Wahid Yang Anggap Natal Sama Dengan Kelahiran Nabi Isa AS
Foto Yenni Wahid : Islamedia

Dilansir dari Tribunnews, Pendiri Wahid Institute, Yenni Wahid menganggap Natal sebagai kegembiraan semua pihak. Menurutnya dalam Alquran pun memberikan selamat atas kelahiran nabi Isa. "Jadi tentunya ini adalah momen yang menjadi kegembiraan buat kita semua," ujarnya saat dihubungi, Jakarta, Minggu (25/12/2016). Selain itu, kata Yenni, natal pun sebagai momen mengukuhkan kembali kebhinekaan dan konstitusi yang menjamin setiap warga negara untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya dengan tenang.

Dikatakan dia, sudah menjadi tugas warga negara Indonesia untuk memastikan dapat beribadah dengan khidmat dan damai. "Kita mengimbau bahwa semua masyarakat agar memberikan ruang dan kesempatan bagi umat kristiani agar merayakan natal dengan tenang dengan penuh kedamaian," tambahnya. Masyarakat Indonesia juga dapat menyadari bahwa perbedaan merupakan sebuah rahmat dan kekuatan bangsa. Serta dapat menjadi inspirasi dunia akan makna perbedaan.

Pandangan Yenni Wahid terkait  anggapannya bahwa Natal sama dengan Kelahiran Nabi Isa AS dalam Islam harus diluruskan, karena tentu saja pandangan ini sangat bertolak belakang menurut Islam.

Kisah Nabi Isa Putera Maryam sudah termaktub dalam Al-Qur’an Surah Maryam yang isinya menjelaskan secara gamblang. Dalam Surah ini, kisah Maryam, ibu Nabi Isa ‘alaihissalam yang serba ajaib, yaitu melahirkan puteranya lsa ‘alaihissalam, sedang ia sebelumnya belum pernah dikawini atau dicampuri oleh seorang laki-laki pun. Kelahiran Isa ‘alaihissalam tanpa bapak, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu dikabulkannya doa Zakaria alaihissalam oleh Allah subhanahu wa ta’ala, agar beliau dianugerahi seorang putera sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita dan kepercayaan beliau, sedang usia beliau sudah sangat tua dan isteri beliau seorang yang mandul yang menurut ukuran ilmu biologi tidak mungkin akan terjadi.

Dalam Surah An-Nisa Allah Berfirman :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allâh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-rasul-ya, dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”. Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allâh Ilaah Yang Maha Esa, Maha Suci Allâh dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allâh sebagai Pemelihara [an-Nisâ/4:171]

Jadi jelas perbedaannya, dalam Islam Nabi Isa As adalah Nabi Allah, bukan anak Tuhan

Terkait perayaan Hari Raya Ummat lain, maka Kaum Muslimin dilarang mengikutinya atau menghadirinya. Rasulullah Saw. Bersabda :

Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun bersabda:

قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Sungguh Allah swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan idul Adha.”(HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i dengan sanad yang shahih).

Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata,
لَا تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الْأَعَاجِمِ وَلَا تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِي كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ
“Janganlah kalian menmempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah swt akan turun kepada mereka pada hari itu.”(HR. Baihaqiy).

Wallahua'lam

Admin
Banner iklan disini