Inilah Iman. Saat ditanya, sempat berjalan kaki berapa kilo dari Ciamis, sebelum dijemput bus? Baru jalan kaki 30 kilo. Kisah Menghujam Aksi 212
AKSI Bela Islam III 212 sudah berlalu. Yang tersisa adalah kenangan indah yang tak akan terlupakan di benak semua orang yang ikut langsung dalam aksi. Aku salah satunya. Sungguh, aku melihat banyak hal menakjubkan yang dilakukan saudara-saudari muslim-muslimatku sepanjang aksi, yang tak akan mungkin dilakukan jika bukan karena kekuatan iman.
Ada serombongan remaja putri anak pesantren dari Ciamis yang menyedot perhatianku. Mereka adalah bagian dari rombongan pejalan kaki yang sempat berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Tetapi di tengah perjalanan mereka dijemput bis untuk kembali ke Ciamis, dan diantarkan ke Jakarta keesokan harinya menggunakan bus.
Jangan bayangkan kau akan melihat wajah-wajah kuyu dan lelah ketika bertemu mereka… Sebaliknya, wajah-wajah ceria dan penuh senyumlah yang kau temukan. Saat ditanya, mereka sempat berjalan kaki berapa kilo dari Ciamis, sebelum dijemput bus? Dengan santainya mereka menjawab,
“Baru jalan kaki 30 kilo…” whaaaat, baruuu? Aku jalan kaki dari Monas ke Stasiun Juanda aja, kaki sudah cenat cenut tak karuan.
Rombongan santri putri dari Ciamis ini menyedot perhatian, karena dari penampilannya saja sudah terlihat berbeda. Mereka mengenakan dress code jilbab, rok dan atas bernuansa ungu, kontras dengan peserta aksi lain yang kebanyakan mengenakan busana putih-putih atau hitam putih.
Tetapi bagian paling unik dari penampilan mereka adalah atribut topi yang mereka kenakan serta “peralatan tempur” yang mereka bawa. Mereka mengenakan topi caping ala petani yang terlihat cantik karena kombinasi warna ungunya. Dan tebak, peralatan tempur apa yang mereka bawa? Sapu lidi lengkap dengan serokan sampah!
Masyaa Allah…. Mereka datang jauh-jauh dari Ciamis, bahkan sempat dengan berjalan kaki pula, dengan meniatkan diri untuk turut berkontribusi dengan melakukan aksi bersih-bersih. Mereka masih remaja, tapi aksi mereka mampu mencipta haru bagi siapa saja yang melihatnya. Seusai aksi, mereka bukannya asyik foto-foto selfie berlatar Monas, tetapi fokus beraksi dengan sapu lidi dan serokan sampah mereka.
Berkat aksi mereka, seluruh area lapangan Monas yang digunakan untuk aksi bersih total, tak terlihat satupun ceceran sampah. Semua sampah disapu dan dengan menggunakan serokan mereka memasukkannya ke dalam plastik sampah besar. Mereka saling membantu kawannya saat beraksi.
Ada yang menyapu, ada yang memasukkan sampah ke plastik, ada yang bahu membahu mengumpulkan kantong-kantong plastik berisi yang sudah penuh ke pinggir.
Aksi mereka hanyalah salah satu kepingan aksi menakjubkan yang dilakukan ummat Islam dalam ABI III 212. Masih sangat banyak aksi-aksi menakjubkan lainnya. Aksi 212 kemarin seolah menjadi pertunjukan parade saling berlomba-lomba melakukan kebaikan dan amal sholeh. Parade kesantunan, akhlak mulia, kepatuhan pada ulama, saling membantu, saling mendahulukan, saling berbagi…. Mulai dari berbagi kurma, permen, air minum, sarapan dan makan siang, hingga berbagi payung, alas untuk sholat bahkan plastik untuk melindungi handphone saat hujan turun. Masyaa Allah.
Seusai sholat Jum’at dan qunut nazilah, aku dan dua orang teman sesama laskar akhwat, masih di atas plastik yang menjadi alas sholat kami, membuka bungkusan nasi sisa makan malam kami. Kedinginan karena basah kuyup kehujanan, serta tidak sempat sarapan pagi karena pukul 05.00 kami sudah harus bergerak ke tempat aksi, membuat perut ini keroncongan. Alhasil, sebungkus nasi dan lauk fried chicken sisa semalam pun kami “hantam” bertiga di bawah guyuran hujan.
Melihat kami makan nasi satu bungkus bertiga, seorang ibu paruh baya di samping kami pun merogoh tas kreseknya dan menyodorkan 3 buah nasi bungkus pada kami.
“Masyaa Allah, Ibu.. Terima kasih… Tapi ga usah banyak-banyak, Ibu… Satu aja cukup… Nanti ibu kehabisan…” ucap kami berbasa-basi (hehee).
“Gak apa-apa, saya memang sengaja bawa 10 bungkus dari nasi rumah supaya bisa berbagi…” jawab ibu itu. Nyessss… Keharuan merebak di hati kami. Saking terharunya, nasi dengan lauk ayam ungkep dan lalapan mentimun plus sambal itu licin tandas dalam sekejap *terharu apa lapeeer ya?
Siapa yang tidak tergetar hatinya melihat pemandangan seperti ini? Ketika jutaan manusia dari berbagai daerah dan latar belakang berbeda berkumpul di satu tempat, di bawah satu komando, untuk satu tujuan, dan semuanya berlomba-lomba melakukan kebaikan dan menunjukkan kemuliaan akhlak?
Hanya kekuatan imanlah yang mampu menyatukan dan menggerakkan hati-hati mereka.
Apa yang membuat mereka tetap bertahan dalam shafnya, tak seorang pun yang bubar dari shafnya, ketika hujan membasahkuyupi pakaian mereka, tubuh mereka?
Kekuatan iman.
Apa yang membuat mereka rela berlelah lelah menempuh perjalanan jauh hingga beratus kilo, meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka, demi membela kehormatan agama dan kitab sucinya?
Kekuatan iman.
Apa yang membuat mereka tunduk patuh, nunut manut kepada ara ulama, ustadz dan habaib? Bersedia diatur dan diarahkan oleh para laskar?
Lagi-lagi kekuatan iman.
Apa yang membuat mereka berlomba-lomba memberikan sumbangsih dan kontribusi demi kesuksesan Aksi Bela Islam III, baik berupa tenaga, pikiran maupun dana?
Tak lain dan tak bukan, tersebab kekuatan iman. Imanlah yang menggerakkan mereka untuk bangkit membela agama, membela Al Qur’an, membela ulama. Apapun risikonya. Apapun taruhannya.
Sebagai Muslim, sungguh aku bangga menjadi bagian dari Aksi Bela Islam III 212. Bangga menyaksikan perilaku menakjubkan Ummat Islam dalam aksi tersebut. Bangga menjadi Muslim…
Isyhaduu bi annaa Muslimiin…
Allahumma a’izzal Islaama wal muslimiin. []
islampos

