Ungkapan Jokowi Tentang Media Social Akhir-akhir ini Justru Berbalik ke Pendukung Ahok dan Dirinya

Ungkapan Jokowi Tentang Media Social Akhir-akhir ini Justru Berbalik ke Pendukung Ahok dan Dirinya
Gambar di atas adalah judul tulisan pendukung Jokowi Ahok yang menuduh MUI dibayar Agus Yudhoyono agar salahkan Ahok, di situs seword milik Alifurrahman pendukung setia Jokowi Ahok
(foto:portalpiyungan.co)

Presiden Joko Widodo menginginkan agar persatuan di Indonesia tetap terjalin dan situasi kondusif. Dia juga menyoroti situasi masyarakat yang berkembang di media sosial.

"Jangan sampai ada yang ingin memecah belah kita, karena kalau kita lihat di media sosial pada sebulan, seminggu, dua minggu belakangan isinya saling menghujat, isinya saling ejek, isinya saling maki, banyak yang fitnah, adu domba, provokasi," ungkap Jokowi dalam sambutannya pada acara Silaturahim Nasional Ulama Rakyat Doa untuk Keselamatan Bangsa di Eco Convention Hall, Ancol, Jakarta Pusat, Sabtu (13/11/2016) demikian seperti dukutip dari laman detik.com

Agaknya sebagian nitizen menjadi kesal dengan pernyataan tersebut, salah satunya siungkapkan oleh Rudyno. Ia menilai bahwa justru pendukung Jokowi Ahoklah yang sering memprovokasi umat Islam, berikut ia nyatakan dalam laman facebooknya:

"Pak Jokowi, jika anda betul-betul concern terhadap perang opini di medsos, maka STOP undang relawan-relawan anda makan siang di istana sampe tiap setahun dua kali.

Tengoklah pengelola situs seword, hatree, beritateratas atau apalah, sampe-sampe menuduh ULAMA MUI antek SBY, MUI dibayar agus dlsbnya. Itu fitnah keji pak. Tapi sayangnya pengelola situs seword malah Jokowi undang ke istana, sampe-sampe dia bangga jadikan profile picture di fb.

Bahasanya kasar sekali "MUI Dibayar Berapa Sama Agus Yudhoyono Untuk Salahkan Ahok?"

"Karena Ketua MUI Antek SBY...."

Dalam dunia demokrasi, penguasa, pemimpin, pemerintah, pemegang otoritas itulah yang harus disorot, dikontrol, dikritik. Jika situs-situs macam seword ini dll beroposisi terhadap pemerintah/penguasa, kita mah cukup abaikan. Karena pada dasarnya orang pasti lebih mendengar pemerintah atau yang punya otoritas.

Tapi jika situs ini berpropaganda untuk memuja2, membela babibuta, menjadi herder penguasa, ini jauh lebih berbahaya. Pembela pak Jokowi ini uda gelap mata, ga bisa lagi bedain mana pemerintah, penguasa.

Ulama dan mantan penguasa pun dibully. Padahal SBY saat jadi presiden diserang media mainstream metrotv tvone bareng2 sampe abal2 ya santai aja. Ga ada itu mengerahkan herder2nya bikin situs propaganda pembela SBY.

Dan ucapan bijak pak Jokowi ini "Medsos sebulan ini isinya saling hujat itu bukan nilai kesantunan" terlihat ironis melihat kenyataan pak Jokowi sendiri "memelihara" para pendukungnya di medsos ini.

Hadeuuhh..."[Rudyno]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini