Kasus Yang Ditimbulkan Dari Ucapan Ahok, Menjadi Pelajaran Bagaimana Pentingnya Menjaga Lisan

Kasus Yang Ditimbulkan Dari Ucapan Ahok, Menjadi Pelajaran Bagaimana Pentingnya Menjaga Lisan

Ucapan Gubernur Basuki Tjahya Purnama atau Ahok menjadi seperti bola liar yang terus menggelinding.

Sangat mengherankan, jika ada pemimpin yang seharusnya memberikan keteladanan dalam aktifitas politik, ternyata dalam berkiprah politik malah mengedepankan gaya arogansi.

Begitulah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selaku pejabat negara setingkat Gubernur DKI, yang ucapannya dinilai menista Kitab Umat Islam Al-Qur'an Ayat Al-Maidah ayat 51 dan Ulama di Kepulauan Seribu. (27/09/2016).

Tidak hanya itu, sebelumnya Ahok sering mengeluarkan kata-kata diskriminatif terkait persoalan ritual ibadah kaum Muslimin, seperti persoalan kerudung dan jilbab bagi kalangan Muslimah di dunia pendidikan, persoalan mekanisme Qurban, persoalan penggunaan Masjid Istiqlal untuk aktifitas kaum Muslimin bermusyawarah politik, bahkan persoalan syiar takbiran menjelang Idul Fitri pun tidak luput dari koreksinya berdasarkan tafsiran Ahok yang Kafir dan liberal.

Bahkan ucapannya tak bisa terkontrol di acara stasiun televisi swasta yang disiarkan langsung dengan menyebut ucapan kotor (tai-tai-tai) yang seharusnya tak pantas diucapkan di ruang publik bagi seorang gubernur apalagi sedang ditonton juta'an masyarakat Indonesia.

Umat Islam di berbagai tempat di wilayah Indonesia sudah banyak yang turun ke jalan menuntut agar kasus penistaan Al-Qur'an ini segera di selesaikan dan Ahok dihukum.

Puncaknya adalah kemarahan umat Islam yang akan mengadakan Aksi bela Islam tanggal 4 November karena menilai aparat kepolisian terlalu lamban menangani kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok ini.

Aksi 4 November ini juga benar-benar membuat ketakutan bagi warga keturunan Tionghoa khususnya di Jakarta, salah satunya adalah yang ditulis netizen bernama Nadya Azzahra yang memberitahukan ketakutan warga Tiaonghoa di Jakarta berkaitan aksi 4 November. Ia mengatakan:

"kak wani (tionghoa, teman kantor) sampe takut datang ke kantor tgl 4 Nov..
oala kak wan..kak wan
itu lah satu yg berbuat semua kena batunya"

Sungguh miris, ucapan satu orang yang tak terkontrol namun dampaknya bisa sangat luas dan mengerikan bahkan terhadap orang lain.

Penulis jadi teringat dulu waktu kecil diajarkan kitab Ta'limul muta'allim oleh guru kami bagaimana pentingnya menjaga lisan.

Sya'ir tersebut  berbunyi:

يَمُوْتُ الفَتَى مِنْ عَثْرَةٍ مِن لِّسَانِهِ # وَلَيسَ يَمُوتُ الْمَرْءِ مِنْ عَثْرَةِ الرِّجْلِ

فَعَثْرَتُهُ مِنْ فَيْهِ تَرْمِىْ بِرَأْسِهِِ # وَعَثْرَتُهُ بِالرِّجْلِ تَبْرَى عَلَى الْمَهْلِِ

Sya'ir ini sangat pas jika diartiken menggunakan bahasa Jawa dengan nada berikut ini:

"Matine wong enom sebab kepleset lisane
Ora kok matine sebab kepleset sikile"
"Dene mlesete lisan, nekakke balang endas
Dene mlesete sikil, suwe-suwe biso waras"

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih maknanya seperti ini:

Pemuda bisa mati sebab terpeleset lisannya tapi tidak mati karena terpeleset kakinya, terpelesetnya mulut bisa melenyapkan kepalanya sementara terpelesetnya kaki lama-lama akan sembuh.

Semoga Allah Senantiasa menjaga kita agar selalu dapat menjaga lisan kita.

Penulis: Mang Uddin [beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini