Pak Nusron Wahid, Sungguh Anda Telah Menyiram Garam Ke Dalam Luka
Oleh : D. Wulandari [Facebook Wulan Bila]
Pak Nusron Wahid,
Anda sungguh menyiram garam ke dalam luka.
Pak Nusron, sebenarnya kami bisa memaafkan Ahok. Sangat bisa. Paling tidak karena 2 alasan:
Pertama, Ahok bukan seorang muslim. Wajar baginya merendahkan Al Quran dan Ulama, karena beliau memang tidak mengimaninya. Kedua, mungkin Ahok khilaf dan melakukannya secara spontan. Kami memaklumi kondisi politik Jakarta saat ini yang sedang memanas. Wajar jika beliau melontarkan apa saja yang menjadi unek-uneknya. Wajar, Pak. Kami anggap itu luapan emosi spontan karena saat itu Ahok sedang berada dalam tekanan politik yang luar biasa.
Kata-kata Ahok melukai kami Pak. Seperti seseorang yang tidak sengaja menggores pisau ke lengan kami. Sakit. Tapi apakah kami akan marah jika dia berdalih ‘tidak sengaja’? Sebenarnya kami hanya perlu permintaan maaf. Itu saja.
Tapi, Pak Nasrun…
Anda yang dengan gagahnya tampil di layar kaca bak seorang dokter yang siap turun tangan mengobati luka kami… sebenarnya tidak sedang memberikan obat, melainkan sedang menuang air garam ke dalam luka kami yang menganga. Pak, tidak sadarkah Anda bahwa apa yang Anda katakan itu sedang ditatap jutaan bahkan ratusan juta pasang mata?
Maaf Pak, kami tidak bisa memaafkan Anda.
Luka kami terlampau perih sekarang, paling tidak karena 2 alasan:
Pertama, Anda adalah seorang muslim. Ingatkah Anda waktu Anda membuka kalimat dengan pernyataan, “Umat Islam ini memang biasa ramai. Ramainya umat Islam itu selalu disebabkan oleh 2 hal: kalo nggak salah paham, pahamnya salah. Selalu itu aja”. Sejak Anda memulai kalimat itu, hati kami sudah hancur Pak. Mungkin Anda tak pernah paham makna peribahasa ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri’! Dan kalimat selanjutnya semakin mengiris-iris hingga tulang. Pak, sadarlah. Anda bukan dokter. Anda adalah duri dalam daging!
Kedua, tidak mungkin Anda khilaf dan tidak mungkin Anda melakukannya dengan spontan! Anda pasti telah mempersiapkannya jauh sebelum Anda tampil di layar kaca. Pak, kami begitu sedih membayangkan bahwa Anda telah menyiapkan pernyataan-pernyataan tajam itu jauh sebelum anda berangkat ke TV One. Anda memikirkannya sejak Anda menerima undangan dari ILC, membuat kerangka pernyataan, menimbang-nimbang ketika hendak tidur, mengonsep ulang ketika menyeruput kopi pagi. Pak, kami sungguh pilu ketika membayangkan Anda dengan sadar dan sengaja menyiapkan pedang untuk memenggal jiwa kami satu per satu!
Pak, kami terluka.
Pernyataan Anda tentang ‘teks apapun itu bebas tafsir’, di kacamata kami seperti anak kecil yang mengatakan ‘Teman-teman, dua tambah dua sama dengan lima!’. Sama sekali tidak mencerminkan intelektual Anda. Mungkin Anda tidak pernah mendapat materi tentang critical writing saat menyusun tesis atau disertasi. Atau jangan-jangan Anda belum pernah membuatnya? Seandainya Anda paham, bahwa kami diajarkan untuk membuat kalimat yang tidak ambigu. Karena gagasan akan lemah dan runtuh jika disampaikan dalam kalimat yang multitafsir, karena gagasan bukanlah apa-apa jika disampaikan dalam kalimat yang tidak dapat secara tepat menggambarkan gagasan itu sendiri. Apakah Anda juga hendak bilang kalau semua disertasi (tulisan ilmiah) di dunia ini multi dan bebas tafsir?
Pak, dimata kami Anda adalah anak kecil yang salah menggunakan rumus matematika. Apakah kami akan memarahi Anda? Tidak Pak, tidak sekarang. Kami tidak akan marah kepada anak kecil yang mengatakan ‘dua tambah dua sama dengan lima’. Kami tidak akan memarahi anak kecil yang belum paham konsep matematika. Kami menunggu Anda, anak kecil itu, untuk menamatkan pendidikan: Agama dan Adab!
Pak, ada luka yang kini kian meradang tersebab Anda siram garam. Harus kami apakan luka ini sekarang? Akankah bisa sembuh…? Atau kami amputasi saja biar kami pincang sekalian?
Maaf Pak, kami tidak bisa memaafkan Anda.
(Tapi kami diajarkan untuk tidak jadi pendendam...)
D. Wulandari
(Satu dari sekian banyak orang yang terluka)

