Na'udzubillaah.. Inilah Teman Di Dunia Namun Musuh Di Hari Kiamat







Ilustrasi

Beritaislam.org - Ukhti, hendaklah kita sadar bahwa hubungan pertemanan dalam Islam bukan masalah biasa, tetapi sangat luar biasa dan harus dijadikan prinsip. Karena hal ini akan terbawa sampai hari kiamat.

Bagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan hubungan pertemanan yang akan terbawa sampai hari kiamat dalam firmannya,

(66). هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.

Hari kiamat itu pasti terjadi, sedangkan manusia dalam keadaan lalai darinya dan tidak bersiap-siap menyambutnya. Apabila hari kiamat itu tiba, dan kedatangannya itu tidak disadari oleh mereka. Dan pada saat itulah mereka menyesal dengan penyesalan yang sangat, tanpa ada manfaatnya bagi mereka dan tidak dapat merubah keadaan.

67). الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِين

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.

Semua sahabat dan teman yang didasari bukan karena Allah, kelak di hari kiamat berbalik menjadi permusuhan. Kecuali apa yang berdasarkan karena Allah, maka sesungguhnya hal itu akan tetap kekal karena dikekalkan oleh Allah. Dan hal ini seperti yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain): dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong pun. (Al-‘Ankabut: 25).

Dua orang mukmin yang berteman karib, dan dua orang kafir yang saling berteman karib. Salah seorang dari kedua orang mukmin yang berteman itu diwafatkan, dan ia diberi kabar gembira akan masuk surga, lalu teringatlah ia kepada temannya itu. Maka ia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya si Fulan adalah teman dekatku. Dia selalu memerintahkan kepadaku agar taat kepada Engkau dan taat kepada rasul­Mu, serta selalu memerintahkan kepadaku melakukan kebaikan dan melarangku melakukan perbuatan jahat, dan dia bercerita kepadaku bahwa aku akan bersua dengan Engkau. Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan dia sesudahku hingga Engkau perlihatkan kepadanya seperti apa yang Engkau perlihatkan kepadaku sekarang, dan Engkau ridai dia sebagaimana Engkau ridhai diriku.”

Apabila salah seorang dari dua orang kafir yang berteman meninggal dunia, lalu ia diberi ancaman akan masuk neraka, teringatlah ia kepada temannya. Ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya teman dekatku si Fulan selalu menganjurkan kepadaku untuk berbuat durhaka terhadap Engkau dan mendurhakai rasul-Mu, memerintahkan kepadaku untuk melakukan kejahatan dan melarangku mengerjakan kebaikan, dan ia bercerita kepadaku bahwa aku tidak akan bersua dengan Engkau. Ya Allah, janganlah Engkau beri dia petunjuk sesudahku hingga Engkau perlihatkan kepadanya hal yang semisal dengan apa yang Engkau perlihatkan kepadaku (neraka), dan Engkau murkai dia sebagaimana Engkau murkai aku.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Seandainya dua orang saling mencintai karena Allah — seorangnya berada di belahan timur, sedangkan yang lainnya berada di belahan barat— niscaya Allah akan menghimpunkan di antara keduanya kelak di hari kiamat, lalu Allah berfirman, “Inilah orang yang engkau cintai demi karena Aku.”

Pertemanan mereka diabadikan oleh Allah, sehingga mereka dipanggil dengan panggilan kemuliaan.

(68). يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.

Mereka yang abadi pertemanannya disifatkan dengan Firman Allah berikutnya,

(69). الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.

Yakni hati mereka beriman, demikian pula batin mereka; serta semua anggota tubuh dan lahiriah mereka taat kepada syariat Allah.

Wallohu a’lam.[]

Sumber: ruangmuslimah.co

[news.beritaislam.org]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: