Deklarasi #2019GantiPresiden Di Medan Dipimpin Romo Dan Neno Warisman, Puluhan Ribu Relawan Hadir


Foto asahansatu.com

Beritaislam.org - Ribuan orang memadati lokasi acara deklarasi akbar Gerakan Nasional Relawan #2019GantiPresiden di Jalan Sisingamangaraja, persisnya depan Masjid Raya Al Mahsum Medan, Minggu (22/7).

Pantauan di lokasi, massa kompak memegang bendera #2019GantiPresiden. Selain itu, massa juga mengenakan kaos bertuliskan #2019GantiPresiden.

Tampak anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Raden Syafii (Romo) dan aktris era 1990 an, Neno Warisman memimpin deklarasi akbar Gerakan Nasional Relawan #2019GantiPresiden. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Turut hadir dalam kesempatan itu anggota DPRD Medan yakni Ihwan Ritonga dan Ahmad Arif. Anggota DPD RI Dedi Iskandar Batubara. Sebelumnya, lagu #2019GantiPresiden juga sempat diperdengarkan oleh kepada seluruh relawan.

Muhammad Raden Syafei membandingkan pemerintahan Presiden Soeharto dan pemerintahan Presiden Jokowi. Menurutnya, selama 32 tahun Soeharto memimpin, utang Indonesia berjumlah Rp2.300 triliun. "Jokowi belum lima tahun memimpin, utangnya sudah mencapai Rp5.000 triliun," kata Romo saat berorasi.

Mantan Pansus RUU Antiterorisme ini menyebut utang pemerintahan saat ini yang mencapai Rp5.000 triliun akan dipergunakan untuk membiayai pemenangan Jokowi periode kedua. Bahkan Romo menuding pemerintahan saat ini juga terlalu semena-mena kepada umat Islam.

Salah satu contohnya, pembubaran HTI karena dianggap mendirikan khilafah. "Padahal kalau boleh jujur, agama lain juga ada yang melakukan seperti itu, bahkan dilakukan di rumah ibadah, tapi dibiarkan saja," sindirnya.

Gerakan #2019GantiPresiden diakui oleh undang-undang. Sebab, setiap lima tahun sekali ada pesta demokrasi pergantian presiden. "Jangankan lima tahun sekali, di tengah jalan juga bisa ganti presiden. Kalau kita mau datang beramai-ramai ke MPR/DPR RI mendesak agar dilakukan sidang paripurna istimewa pergantian presiden bisa. Jadi kalau ada yang menakut-nakuti, jangan takut, ini kegiatan yang dilindungi UU," jelasnya.

Sementara, relawan #2019GantiPresiden, Ustad Masri Sitanggang mengibaratkan negara Indonesia seperti perjalanan sebuah bus. Menurutnya, selama memimpin Indonesia, Jokowi terlalu semena-mena dan ugal-ugalan, meskipun sudah diingatkan.

Masri menyebutkan, supir bus sudah ugal-ugalan ketika membawa penumpang maka harus diganti. "Kalau tidak bisa supirnya diganti di tengah jalan, maka tunggu sampai ke stasiun, di stasiun kita ganti. Jokowi sudah diingatkan, kita tunggu sampai stasiun, 2019 kita ganti presiden," kata Masri.

Selain itu, Masri juga mengibaratkan negara Indonesia seperti sholat berjamaah. "Ketika imam sholat berjamaah salah, makmum wajib diingatkan," ucapnya.
Ketika imam tidak mau diingatkan, maka jangan dijadikan imam kembali ketika sholat berjamaah lagi. "Kalau imam yang tidak mau dikoreksi kembali menjadi imam, siapa yang salah. Yang salah makmumnya. Ketika negara ini carut marut, pemimpin itu diberikan kesempatan, siapa yang salah, yang salah masyarakatnya," teriaknya.

Kepada seluruh relawan #2019GantiPresiden, ia berpesan agar tidak mendukung partai politik pendukung penista agama. "Apakah kita semua setuju ganti presiden," tanya dia. "Setuju," jawab relawan yang hadir.

Sementara itu, Wakil Ketua Muhammadiyah Kota Medan, Rafdinal SSos MAP mengklaim gerakan #2019GantiPresiden bukan hanya keinginan para elit partai politik (Parpol) semata.

"Gerakan ini bukan hanya kemauan parpol. Tapi keinginan seluruh rakyat Indonesia, semua elemen masyarakat ingin 2019 ganti presiden," kata Rafdinal saat acara deklarasi relawan #2019GantiPresiden.

Rafdinal lantas menyampaikan beberapa alasan mengapa 2019 harus ganti presiden. "Harga kebutuhan pokok naik, ulama dipenjarakan, aset dijual kepada asing, utang negara ini bertambah," teriaknya.

Rafdinal menegaskan gerakan #2019GantiPresiden merupakan gerakan konstitusional yang dilindungi undang-undang. "2019 kita jangan sampai salah pilih presiden," tegasnya.

Politisi Gerindra, Ihwan Ritonga juga menyampaikan hal senada. Menurutnya kondisi negara ini sudah sangat memprihatinkan. "2019 wajib ganti Presiden," katanya.

Terpisah, salah satu relawan aksi deklarasi #2019GantiPresiden, Noni mengaku hadir atas inisiatif sendiri. "Sudah cukup Pak Jokowi satu priode, #2019GantiPresiden," katanya.

Menurutnya, sebagai ibu rumah tangga ada beberapa alasan mengapa ia sepakat dengan gerakan #2019GantiPresiden. "Harga kebutuhan pokok naik, BBM juga naik," ucapnya.

Infaq #2019GantiPresiden
Selama kegiatan berlangsung, beberapa relawan berkeliling untuk menyebarkan kotak infaq kepada seluruh relawan yang hadir.

"Alhamdulillah, total uang infaq yang terkumpul berjumlah Rp22 juta," ujar panitia.

Romo yang pertama kali mengeluarkan uang untuk kotak infaq. "Kita di sini tidak ada yang dibayar, malah kita berinfaq dan menyumbang uang untuk gerakan #2019GantiPresiden," katanya. (Sumber)

[news.beritaislam.org]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel